Archive for July, 2012


Opera Van S.M

Suatu hari studio TransTuju nampak sibuk dan penuh sesak. Gimana gak sibuk, hari ini mereka kedatangan tamu istimewa dari negerinya Ibu Mishil a.k.a Korea Selatan. Tamu istimewanya adalah rombongan artis-artis kece dari suatu agency S.M Entertainment. Tapi untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Artis-artis yang mereka tunggu gak kunjung dateng. Semua fans, wartawan, dan crew yang nungguin tuh rombongan, udah lima L (Lemah, Letih, Lesu, Lemas, dan Lunglai). Hampir 3 jam mereka semua nunggu. Udah berbagai  teriakan menggema di lobby.. Mulai dari

“SUJU Saranghaeyo..!!”

“BoA unnie, we ready to jump you.. We are jumping BoA, oh yeah!!!”

“Noona neomu yeppeo, michyeo, replay, replay, replay,…”

“Girls bring the boys out..”

Dan teriakan lainnya yang udah gak jelas bunyinya kayak apa..

Di tengah hiruk pikuk seorang anak perempuan bertubuh mungil berparas cantik, menghampiri sekumpulan remaja putri yang lagi jongkok-jongkok depan meja receptionist. ‘Wah, calon temen-temen baru gue nih..’ Seru batinnya lega ketika dia menyadari bahwa kumpulan anak perempuan itu pakai bondu dan bawa hand banner bertuliskan EXO-K dan EXO-M.

“Permisi..  Boleh ikut gabung?” Pekiknya semangat..

“Boleh kok..” Jawab gerombolan anak-anak cewek itu tak kalah semangat.

“Kalian EXOtic ya?” tanyanya dengan mata kelinci.

“Iya..” Jawab anak-anak itu sambil mamerin aegyo yang kagak ada imut-imutnya.

“Aku juga EXOtic, aku suka banget subgroup EXO.. Yang EXO-Nine” (baca EXO-Nain kkk~)

Seketika gerombolan anak-anak itu terdiam, mata mereka melotot. Semuanya pada cengo. Untung bola mata mereka pada gak keluar. Udah gitu, waitress yang lewat deket mereka pake acara kepeleset lagi. Alhasil minuman yang dia bawa bertaburan kemana-mana (?).

“$&*%*:{|}”:?><:{“?{/;2@$~`xC:@” Maki orang-orang yang ada disitu serempak.

Mereka dengan omongan-omongan yang gak jelas itu, gak tahu kalo artis-artis yang mereka tunggu lagi kelabakan di tengah kemacetan Jakarta. Udah hampir setengah jam, bis yang bawa tuh rombongan artis gak maju-maju..

“Buset.. Hyung, jakarta panas banget ya?” Ujar Shindong pada KangTa yang duduk sebelahnya dia.

“Udah, lu nikmatin aja.. Kapan lagi bisa sauna gratis.. Lumayan, ngelunturin lemak.” Jawab KangTa berusaha menikmati panasnya Ibukota Indonesia.

“Untung ya hyung, kita kejebak macet.. Jadi bisa namatin level 10 nih hahahaha..” Kata si raja gamer yang tak lain tak bukan adalah Kyuhyun. Sementara Sungmin yang duduk di sebelahnya cuman menanggapi dengan tampang kegerahan, sambil megang kipas pinknya..

Yesung nampak sibuk dengan HP-nya untuk menentukan posisi selca yang pas.. Leeteuk menghitung uang untuk makan siang. Dia gak mau rugi lantaran porsi makan membernya yang rakus-rakus.

Seorang gadis yang duduk di bangku paling belakang sibuk betulin bondunya. Dia bingung, hiasan keroppinya mau di taro sebelah kanan apa kiri.. Dia udah nyoba nanya ama delapan unnie nya. Tapi jawabannya selalu sama. “BERISIK!!” kasihan gadis yang punya nama Seohyun ini.

“Aduh! Gak tahan gue. Udah panas, ni mobil kagak mau maju apa?” Seorang perempuan dengan jiwa laki-laki menggulung lengan kemeja pendeknya. Namun sebelah tangan sudah mencegat aksi nekatnya. Dia yang sudah berdiri, jadi duduk lagi.

“Woy, pak supir! jalan gak!” Teriak cewek itu lantang.. Namun dengan keadaan tubuhnya yang masih di tahan oleh ke-empat temannya.

“Sabar Mber!” Seru salah satu dari ke empat cewek-cewek cantik itu.

“Apaan sih tuh cewek-cewek pada ribut mulu.. Kamseupay Euwh!!” Kata pinky boy yang duduk di belakang supir.. Dia membetulkan kacamata pinknya lalu menutupkan baret pink ke mukanya.

“Double what??” Kata Luna, cewek yang se-grup dengan cewek tomboy tadi. Dia kesinggung rupanya pemirsah hhh~~

“Tuh kan Key Hyung. Gue bilang juga apa. Ilangin tuh hobi mancing di aer keruh.” Kata anak laki-laki yang duduk di sebelah pinky boy tadi. Sambil asik ngemut lollipop , dia sibuk ngibas-ngibasin rambut jamurnya yang basah ama keringet. Alih-alih menikmati musik dari headphone yang dipasangnya, dia geleng-gelengin kepala gak jelas..

Seiring berjalannya waktu, semua nampak kelelahan. Dan akhirnya mereka teritdur pulas sambil menikmati segarnya udara dari AC alami.

Tiba di tempat tujuan.. Sang supir yang rendah hati, baik, dan loyal pada pekerjaannya nampak membangunkan penumpangnya.. Tapi dasar kebo semuanya, satu pun gak ada yang mau bangun..

Merasa kesal, akhirnya Pak supir pun pilih jalan pintas. TIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNN!!!! Dia bunyiin klakson sekenceng-kencengnya. Semua penumpang bangun dengan semangatnya. Termasuk penumpang tertua kita Bapak Lee Soo Man. Saking Semangatnya dia sampe loncat, dari tempat duduknya. Akhirnya jidat beliau mendarat dengan mulus di sandaran bangku yang ada di depannya.

“Euuwh..” Pekiknya tertahan.

Bis di parkir di depan gedung TransTuju. Penumpang pun turun membentuk barisan satu banjar. Dipimpin oleh seorang cowok yang akhir-akhir ini kulitnya agak gosongan. Dengan badan kingkongnya, Ia melaju dan mulai turun dari bis tak lupa sambil mengatakan “Good afternoon beautiful world”…

Kedatangan tersebut di sambut dengan berbagai atraksi ala kadarnya. Ada yang nyanyi-nyanyi kayak choir, ada yang teriak-teriak, dan ada juga yang nyalain petasan banting. Semuanya nampak begitu gembira.

Sukses menerobos kerumunan yang menggila, beberapa orang crew lari tergopoh-gopoh menyambut rombongan yang akan masuk ke gedung TransTuju.

Seorang pria jangkung dengan rambut hitam agak jabrig menggoyangkan tangannya “annyeonghaseyo.” Sambil tersenyum cantik. “Babo~” Katanya lagi sambil ngedipin sebelah matanya.

Tiba-tiba..

“Eunhyuk ilang, Eunhyuk ilang.” Jerit Donghae sambil geleporan.

“Kok bisa Hyung?” Jawab Ryeowook sambil aegyo. Gak kalah imoetz (apaan deh -__-) dari Tina Toon bolo-bolo

“Itu!” Timpal Hangeng sambil manyunin bibirnya ke arah air mancur.

Ternyata Eunhyuk ada disana. Dia malah asik minta tanda tangan ama JuPe, yang ternyata abis ngisi acara di TransTuju. Dari situlah member SUJU tau kalo nyuk emang fanboy-nya JuPe. -___-

Donghae yang gak rela couplenya deket-deket ama JuPe langsung ngibrit dan narik-narik Eunhyuk biar ngikut dia. Tapi sebelum itu kejadian dia udah pontang panting duluan, gegara anak-anak yang mau nonton acara musik di TransTuju keburu neriakin dia “Ariel, Ariel, Ariel…”

Giliran EXO lewat di depan gerombolan fans mereka.

“Morgan.. Morgan..” Tiba-tiba cewek baju polkadot yang gak jelas asal usulnya muncul sambil narik-narik baju D.O yang dikira morgan semes ama dia.

D.O dan member EXO yang lain gak bisa ngomong apa-apa. Mereka cuman bisa berdoa supaya Tuhan melindungi mereka. Untungnya EXOtic yang sebelah dia langsung nolongin D.O dengan cara narik-narik cewek tadi sampe nyusruk nyium tanah.

“Lo fansnya semes ya?” Tanya EXOtic satu itu penuh amarah..

“Enggak kok unn.. Gue cuman suka morgan nya ajah..” Jawab cewek polkadot melas.

 

Tiba di studio semuanya langsung mengucap syukur karena tiba dengan selamat, dipimpin Siwon.

Lee Soo Man Sajangnim langsung ngegiring mereka semua ke ruang make up.. Disana ricuh banget. Heechul ama Jessica rebutan Blush On sementara Yesung diamuk sama Ryeowook gara-gara maksa buat selca. Leeteuk sama Yunho susah payah ngelarang KyuMin (Kyuhyun Changmin) yang jailin teman-teman mereka yang lagi pada make up. Cuma Taemin yang alim. Bisa dilihat dari bulu mata anti taifun yang dipakainya, rapi banget. Itu karena do’i diam seribu bahasa pas lagi di make up.

“Gue heran kita nih mau ngisi acara apa kok pake kostum wayang begini?” Siwon bingung pas nerima kostum wayang dari orang wardrobe.

“Kita mau ngisi acara Opera Van Java. Acaranya Sule, yang mirip lo itu hyung.” Baekhyun ngelawak -___-

Akhirnya Jelas sudah, kalo kedatangan anak-anak SMTOWN ke TransTuju adalah buat ngisi acara Opera Van Java. Karena udah jelas, bersama dengan berakhirnya FF kacau ini author mau ngundurin diri aja deh. Makasih ya, udah luangin waktu mampir-mampir dimari..

감사합니다 (Kamsahamnida) (✽ ˘)з┌◦◦◦♡

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita ini terinspirasi dari dua buah lagu “That Man by: Hyun Bin” dan “In MyDream by: Super Junior”

 

Seperti salju.. Ia membeku di musim dingin tetapi hilang saat hangat mentari meneranginya…

        Entah keberapa kali aku memencet bel rumah ini. Tapi penghuninya seolah enggan menampakkan diri. Noon, cowok korea itu pasti masih tidur. Seperti inilah kebiasaan buruk sahabat kecilku . Apa dia lupa untuk menemaniku mencari buket bunga pernikahan?   Ahh, mana mungkin. Hampir delapan belas  tahun aku berteman dengannya, setahuku  Noon (dalam bahasa indonesia  Noon berarti salju)  bukan tipe orang yang dengan mudah melupakan  janjinya.  Aku Mencoba menghubungi handphonenya tetapi tidak aktif. Kemana orang ini? Kalau minta antar Bastian -calon suamiku-, mana mau dia. Dia pasti menjadikan pekerjaan sebagai alasannya, meskipun  ini toh untuk pernikahan kami.

         Hampir Tiga puluh menit aku berdiri di depan pintu pagar mungil ini. Aku mencoba bersabar menunggu hingga cowok dua puluh empat tahun itu  terbangun dari dream land, kemudian membuka gorden kamarnya di lantai dua dan batal menguap lebar karena melihat wajah galakku  mematung di tempat ini. Nihil.. ia tak kunjung bangun.

         Seseorang nampak berlari tergopoh-gopoh. Sepertinya itu Mbok Nem, pengasuh yang merawat Noon dari kecil.

“Mbok dari mana?” Aku menghampirinya yang sedang terengah-engah  karena lelah berlari.

“Haduh  non Aini.. Si non.. Pasti mau ketemu den Noon ya?” Ucapnya susah payah.

“Iya mbok.  Masa jam segini dia belum bangun juga. Padahal dia ada janji sama aku.” Kataku sambil melirik jam tangan.

Ku lihat si Mbok mengusap mata dengan ujung kebayanya. Sambil sesekali Ia sesenggukan

“Kenapa Mbok?” Dengan  penuh kebingungan aku merangkul si Mbok. Bahunya yang rapuh bergetar dalam rangkulanku.

“Aden.. Udah pergi non.” Ucapnya dengan suara terbata.

“Maksud Mbok?” Aku makin bingung dengannya. Sebenarnya apa yang terjadi?

“Aden pulang ke Korea?” Air mata  Mbok mengalir makin deras.

         Kapan? Kenapa dia pulang? Kenapa mendadak dan tidak mengabariku? Kapan kembali? Kalau dia pergi untuk sementara waktu  kenapa si Mbok malah menangis? Aku ingin mengajukan pertanyaan pada Mbok yang sekarang terduduk lemas di hadapanku. Tapi tenggorokanku sesak, sakit. Aku tak bisa berkata apa-apa.

“Ini titipan aden..” Mbok menyerahkan sesuatu. Sebuah amplop berwarna hijau tosca dengan  wangi parfum Noon dan  sebuah kotak kecil dengan warna yang sama. “Si Mbok baru pulang antar Aden ke bandara”  lanjutnya. Aku langsung meraih amplop dan kotak  itu.

         Bandara.. Segera aku berlari ke depan komplek dan memberhentikan taksi yang lewat. Semoga pesawatnya belum take off.

“Bandara pak. Tolong cepat sedikit….”

         Wajahku memanas. Aku merasa, bulir-bulir hangat mengalir di pipiku. Kenapa semua ini begitu mendadak. Tanpa pamit dulu, ia pergi meninggalkanku. Egois. Padahal ini H-3 menjelang pernikahanku. Ia sudah berjanji banyak hal padaku. Dia akan jadi pendamping pengantin wanita menggantikan  Ayah yang telah tiada. Dia juga akan bernyanyi di pesta pernikahan. Noon benar-benar berubah. Ia melanggar janjinya.

         Setiba di Bandara aku berlari menghampiri seorang petugas di bagian departure.

“Pesawat menuju Incheon.” Aku terbata-bata.

         Belum juga aku selesai bicara. Ia menunjuk pesawat yang take off. Tak mengerti apa yang ia maksud aku melirik  kearah departure board. Destination Incheon, Sched 11.00 angka yang sama seperti tertera di jam tanganku. Tidak.. Aku terlambat.

         Aku seperti kehilangan separuh hidupku. Aku tak punya gairah untuk melakukan apapun. Yang aku ingin sekarang adalah pergi mencari  Noon. Sudah dua hari aku mengurung diri di kamar. Tanpa seteguk air ataupun sesuap nasi. Tak peduli jika Bastian –calon suamiku- ataupun Ibu, menggedor pintu.  Tak peduli jika esok aku menikah.

         Aku teringat pada titipan yang diberikan Mbok Nem. Sebuah amplop dan kotak kecil dengan warna yang sama. Aku meraihnya.  Begitu ku bukakotak  kecil itu, ada selembar post-it berwarna kuning menempel bertuliskan  ‘Dengarkan Track no 57 & 58 ya ^^’

 

         Aku meraih isi dari kotak itu. Sebuah  i-pod dengan casing biru . Segera aku mencari track no. 57 yang di maksud Noon .

Sebuah lagu mengalun begitu sedih dan hampa. Kini giliran surat itu ku baca.

Seorang pria mencintaimu

Pria itu mencintaimu dengan segenap hati

Dia mengikutimu layaknya sebuah bayangan

Pria itu tertawa dan Menangis

Sudah berapa lam a pria itu menatapmu hanya kau seorang

Pria itu ketakutan

Jadi Ia belajar untuk tertawa

Pria itu punya banyak cerita yang bahkan, ia tak dapat menceritakan itu pada sahabatnya…..

 

Noon, Apa maksudmu? Aku terisak. Rasanya sesak sekali. Aku tak dapat mengerti, apa yang  ia maksud. Noon.. Bukankah selama ini kita selalu saling terbuka? Tapi sekarang saat kau pergi , kenapa kau seolah membuatku tak tahu sedikitpun mengenai dirimu?

Aku mengusap air mata yang sejak tadi membasahi pipiku tanpa henti. Lalu kembali melanjutkan membaca.

Aini..

Awalnya, aku bahkan tak dapat melafalkan nama itu dengan baik…

Delapan belas tahun lalu pertama kali menginjakkan kaki di sekolah, tak ada yang mau menyapaku. Hanya karena aku berbeda. Aku tak dapat berbicara dalam Bahasa Indonesia. Tapi kau di sana saat itu. Bersi keras untuk mengenalku, dan mencoba berkomunikasi. Meski saat itu kita hanya menggunakan bahasa isyarat dan tak ada percakapan,  tapi aku menikmatinya.. Hingga aku bisa mengucapkanbeberapa  kalimat dengan benar.. Aku merasa nyaman tinggal di Indonesia, karena sekarang aku memiliki teman. Sampai aku berhenti merengek pada ibu untuk kembali ke Seoul.

Lagu yang sedang ku dengarkan berhenti, lalu berpindah ke track selanjutnya. Mungkin ini yang di maksud Noon dengan track no. 58.

Aku sungguh-sungguh minta maaf Aini..

Entahlah, sku sendiri tak dapat menggambarkan perasaan ku saat ini. Mungkin aku hanya dihantui rasa takutyang berlebihan. Takut sahabat kecilku akan pergi meninggalkan ku. Ketakutan yang pada akhirnya sedikit demi sedikit menjadi nyata.

Aku melihatmu dalam mimpiku, Aini..

Aku melihatmu tersenyum padaku dan menggenggam  tanganku erat… Aku sungguh bahagia. Merasa bahwa senyummu adalah obat mujarab atas segala ketakutanku. Dan genggaman tanganmu yang kuartikan bahwa kita akan bersama selamanya.

Namun ketika aku terbangun dari mimpi itu, semuanya berbeda. Kau memang tersenyum, tapi untuk orang lain. Dan yang kau genggam adalah tangan orang lain.

Mimpi itu terulang lagi Aini.. Awalnya aku begitu membenci mimpi itu. Namun akhirnya aku terbiasa.. Hingga pernah aku berdoa pada Tuhan, agar Ia membiarkan aku  tidur untuk selamanya.. Agar aku tetap berada dalam mimpi itu. Setidaknya aku bisa terus bersamamu, meski hanya dalam sebuah mimpi. Tetapi Tuhan berkehendak lain.. Ia kembali membangunkanku. Membuatku kembali menjadi pengecut yang bahkan tak dapat mengungkapkan isi hatinya. Sebenarnya aku hanya takut. Bukankah kau selalu bilang padaku, bahwa di dunia ini ada mantan kekasih, ada mantan suami, tetapi tidak ada mantan sahabat.

Dua lagu yang kau dengar tadi sebenarnya akan ku nyanyikan di pesta pernikahanmu.. Pantaskah?? Di hari bahagia sahabatku, aku malah menyanyikan lagu yang sangat sedih. Jadi aku memilih untuk pergi saja.. Karena aku pun tak sanggup untuk melihat lebih banyak lagi.

Aku pergi, Aini.. Jarak kau dan aku hanyalah sebatas doa.. Semoga pernikahanmu diberkati..

Biarlah salju ini tetap dingin dan membeku untuk selama-lamanya.

만나서 반갑습니다 .. 안냥.. (Manaseo bangapseubnida.. Annyeonng : Senang berjumpa denganmu.. Selamat tinggal)

Im Seong Noon

Kenapa tak katakan ini dari awal Noon.. Dasar bodoh! Aku berpikir ia sama sekali tak punya perasaan suka padaku.. Seandainya aku tahu ini dari awal.. Mungkin aku takkan menerima uluran tangan Bastian.

Aku terus mengutuki diriku sendiri. Mengapa aku begitu bodoh. Tak dapat mengartikan perhatian Noon selama ini. Noon yang rela berkorban untukku, yang jadi sandaran saat aku sedih dan putus asa. Yang menyanggahku ketika aku kehilangan penopang hidup yaitu ayahku.. Maafkan aku Noon..

Sementara itu track no 57 kembali ku putar menemani malamku yang sunyi.. Lagu yang dinyanyikan oleh Hyun Bin…

“Geu namjaga naraneun geol anayo

Almyeonseodo ireoneun geon anijyo

Moreulkkeoya geudaen babonikka~”

Do you know That man is me?

You’re not pretending that you don’t know, right?

You really don’t know cause you’re a fool.

 

Malamku  semakin larut dan gulita..

When words can describe our life…

DANDELION’S LIFE… (PART 1)

Image

Aku masih kesal dengan ulahnya. Dia membuatku hampir gila. BABO! Apa yang dia perbuat, benar-benar membuatku sengsara. Lunch box milikku dia sembunyikan. Saat makan siang aku kenyang menelan angin. Buku matematika ku ia siram dengan jus yang di belinya dari kantin. Padahal, isinya adalah PR yang sudah ku buat semalam suntuk. Jessica, dia seperti monster. Monster yang harus segera dibinasakan. Sayangnya, aku tidak bisa melakukan itu. Aku Shin Hari, siswi yang lemah di sekolah. Ingin melawan seorang jessica leader team cheers itu, lebih baik mimpi saja.

SIAL SIAL SIAL!!! Kutendang setiap krikil yang menghalangi jalanku. Seandainya aku bisa melakukan ini pada kerikil bernama jessica, mungkin hidupku akan sangat menyenangkan. Dan taecyeon si kapten team rugby itu juga tidak hanya jadi sekedar teman baikku. Taecyeon… Sudahlah lupakan saja.

“Hei awas!” Namja itu sudah gila apa? Asal saja menyeberang jalan.

“Hei!!” namja itu tak mendengar teriakan ku.

Aku berlari ketengah jalan menarik lengannya. Brukk, aw.. Aku salah perhitungan. Kami terjatuh di terotoar. Truk pengangkut barang melintas dengan kencangnya, menghempaskan kepulan asap hitam. Hampir saja, benda itu merenggut nyawaku dan namja ini. Tanganku berdarah dan memar. Mungkin karena membentur trotoar.

“kau tidak apa-apa?” namja itu mengulurkan tangannya.

“lecet sedikit.” aku meraih tangannya. Lantas bangkit dan merapikan seragamku.

“hey, lecet sedikit apanya? Almamater mu robek. Siku mu kelihatan. Berdarah. Ya ampun, tangan mu berdarah.” seru namja itu panjang lebar dan dengan suara yan. indah. Ya Tuhan, wajahnya. Wajahnya seperti malaikat.

“sini biar ku bersihkan luka mu.” namja itu menarik lenganku. Aku masih fokus mengagumi wajahnya.

“tidak usah. Terima kasih. Aku mau pulang saja. Ahjumma sudah menungguku.” aku menghempaskan tangannya dan berlalu.

Siapa namja itu? Suaranya indah sekali. Wajahnya juga seperti malaikat.. Apa dia itu manusia?

***

Mata ahjumma terbelalak melihat kondisiku.

“ada apa dengan mu samantha?” ia selalu memanggil dengan nama british ku. Pantas kalau ahjumma kaget melihatku. Aku pulang dengan seragam yang robek.

“aku tidak apa-apa” aku berusaha menenangkan ahjumma yang mulai panik. Ia memegang lenganku yang berdarah.

“sini sam!” ahjumma membimbingku ke sofa.

“ahjumma ambil obat dulu ya.” lanjutnya.

“iya.” aku mengangguk pelan.

Hanya ahjumma. Aku hanya punya ahjumma di korea ini. Aku hanya tinggal berdua dengannya. Dia adalah adik appa. Sementara, appa tinggal di sydney Australia. Ia adalah guru besar ilmu kedokteran dari University of New South Wales, Professor Shin Bu Yang. Ia adalah kebanggaan di korea. Sementara Umma ku, adalah perempuan inggris. Bernama Agatha Cotwell. Relawan kemanusiaan dan pernah bertugas sebagai tenaga medis di konflik Somalia. Ia meninggal setelah melahirkanku. Appa dan Umma adalah lulusan dari Harvard. Di sana lah mereka bertemu.

Ahjumma membantuku membuka almamater dan mencuci luka dengan antiseptik. Perih sekali. Aku hampir menangis.

***

Pagi kembali datang. Aku malas jika harus berhadapan dengan pagi. Karena jika pagi datang, aku tak bisa lepas dari kenyataan ‘menghabiskan hari di sekolah’. Dan menjadi bagian dari kejadian-kejadian buruk yang di buat jessica. Aku benci dengan kenyataan ini.

Pukul tujuh tepat. Aku sudah duduk di belakang meja. Mengikuti mata pelajaran mrs. Jang English speaking class, cultural awareness.

“shin ha ri, come here dear.” ia memanggilku.

Aku bergabung dengan mrs. Jang di depan kelas.

“i know, you lived in america for about seven years right? Now, would you like to tell us your experience? Especially for new comer.” pintanya.

“of course mam. I’d love to.” jawabku.

Mrs. Jang kembali ke tempat duduknya.

“it’s helpful to know how americans typically will be. Otherwise you will start feeling ‘these people are great dramatist……’, etc. Here are some tips: americans are very friendly and helpful. They don’t make you feel like a foreigner….”

Aku mencoba menceritakan segala hal yang ku ketahui tentang ‘uncle sam’. Teman-teman memperhatikanku. Sepertinya mereka bisa memahami maksudku. Kecuali jessica yang memandangku sinis. Tatapan matanya seperti sedang memarahiku. Aku berbicara se-simple mungkin. Meski agak panjang lebar.

“they are very ‘proud’ of their country. For them, the universe is the united states. So never ever make fun or speak lightly about them or tell them that they do not have any social cultural background.” teman-temanku tertawa mendengarnya. Aku melanjutkan bagian terakhir “you will not make more american friends that way. Thanks for your attention.” mrs. Jang dan teman-teman memberikan standing apploach. Taecyeon, dia juga tersenyum bangga padaku. Bahagia sekali.

***

Aku merasa diriku sedang melayang di udara. Senyum taecyeon, sungguh seperti obat bius. Jam istirahat, kantin yang hiruk pikuk, aku seolah sedang tak berada dalam situasi itu. Hari ini hari keberuntunganku.

BRAKK.. Jessica menggebrak meja, dan lamunanku berantakan sudah.

“ada apa?” aku berupaya ramah padanya. Ia tak menghiraukan upayaku. Dan menarikku pergi meninggalkan kantin.

Ia berhenti di samping perpustakaan. Tempat yang sepi dan leluasa untuk melakukan hal nekat. Aku sih sudah pasrah. Terserah dia mau melakukan apa.

“aku benci padamu.” jessica geram.

“kenapa kau membenciku? Aku tidak pernah berbuat salah kan?” aku membela diri.

“aku benci karena taecyeon selalu baik padamu. Aku benci kau yang memiliki pronunciation yang baik. Aku juga benci, kenapa kau harus pindah ke korea. Harusnya kau tinggal di amerika saja.” jessica membentak-bentak. Akhirnya yang ku takutkan terjadi. Ia mendorongku hingga jatuh terjerembab. Lenganku yang terluka membentur lantai. Perbannya memerah. Sepertinya berdarah lagi. Aku tidak terima dengan perlakuannya. Tapi kalau aku membalas, itu artinya aku sama saja dengannya.

Jessica pergi meninggalkanku. Mungkin ia sudah puas hanya dengan mendorongku.

***

Mata pelajaran akhir sudah selesai. Bel juga dibunyikan. Waktunya pulang.

“pulang bersama yuk!” Taecyeon membantu memberereskan buku.

“kamu tidak pulang dengannya?” aku memasukkan buku ke tas.

“nya? Siapa? Jessica?” taecyeon tertawa renyah, aku juga.

Buku sudah masuk ke dalam tas. Aku dan taecyeon, taecyeon, taecyeon. Huh, senangnya. Aku dan taecyeon pulang bersama. Kami berjalan melewati lorong, kelas-kelas, auditorium sambil mengobrol dan tertawa. Selama ini, dia memang sangat baik. Tapi aku belum pernah merasa sedekat ini. Sampai di depan gerbang, obrolan kami tetap asik. Hanya saja ada namja yang… Hah, itu kan namja chullada yang kemarin. Yang suaranya indah. Hari ini, namja itu juga terlihat sangat tampan. Memakai blazer hitam, bersandar di mobil ford metalik. Ia melambaikan tangannya padaku.. Ah, tidak. Mungkin ada orang lain yang dikenalnya di sekolah ini. Aku melanjutkan jalanku bersama taecyeon. Atau haruskah ku sebut ini sebagai date? Karena ia mengajakku mampir dulu ke coffee bean. Tidak, tidak. Dia kan pacar jessica.

“yeppuda penyelamat.” seseorang menyapaku dari belakang dengan ‘yeppuda penyelamat’. Taecyeon yang berdiri di sampingku mendadak kaget.

“namja kemarin” aku tak kalah kaget. Taecyeon sedikit bingung, mungkin karena panggilan ‘yeppuda penyelamat’ dan ‘namja kemarin’. “Hallo, aku kim kibum.” namja itu memperkenalkan diri sambil membungkuk.

“mmm, taecyeon kita pulang bersama lain kali saja ya. Aku ada urusan penting.” aku membisikinya. Taecyeon mengerti. Ia meninggalkanku dan namja ini.

“aku shin hari. Senang berjumpa lagi.” aku pun membungkukkan badanku.

“jadi, namamu hari? Shin hari?” ada penyesalan di nada suaranya.

“Kenapa memang?” kataku.

“bukankah kau orang asing? Wajahmu terlihat seperti orang amerika atau eropa.” lanjutnya.

“lalu?” aku sedikit bingung.

“aku berhara kau memperkenalkan dirimu dengan nama annabelle, alice, charlotte…” aku tertawa geli mendengar kata-kata namja itu. “atau agatha.” namja itu, maksudku kibum. Ia meneruskan kalimatnya. Agatha.. Ia mengingatkan aku pada umma yang sudah lama meninggal.

Umma yang bahkan aku belum pernah melihat wajahnya. Kecuali lewat foto-foto yang di berikan appa. Umma yang memiliki mata biru seperti mataku.

“hei..” kibum mengejutkanku.

“mwo?”

“bagaimana kalau ku antar pulang? Tapi, aku lapar. Kita makan dulu ya.” belum juga aku berkata ya mari atau tidak terima kasih, dia menarikku masuk ke mobilnya. Sok akrab.

***

Jam 5 sore. Bobtol’s restaurant, tempat kami berada saat ini cukup ramai pengunjung. Kami duduk di samping jendela. Tanpa memastikan suka atau tidak, kibum sudah memesan makanan untukku.

“ini resto milik sahabatku.” ia menuangkan teh untukku.

“lumayan juga.” aku melihat ke seluruh ruangan. Interior design nya cukup bagus. Seorang unnie membawakan apa yang di pesan kibum.

Makanan apa ini? Hah? Sandwich, biskuit, kue kering? Tidak salah?

“makanan apa ini?” tanyaku heran.

“ayo ajari aku cara orang barat minum teh.” katanya.

Apa? Mengajari minum teh? Bukankah ini terdengar sangat bodoh.

“tapi, bukan kah orang korea juga biasa minum teh?” jawabku dengan nada tinggi.

“sudah jelaskan saja!”

“baiklah.. Aku jelaskan. Kamu memilih waktu yang tepat. Saat ini late afternoon, orang inggris menyebut ini dengan ‘tea time’. Mereka menyeduh teh di poci, dan menambahkan gula dan krim kedalam teh di cangkir mereka. Seperti ini.” aku menuangkan krim dan memasukkan beberapa sendok gula ke dalam tehku. Kibum mengikutinya. Aku ingin tertawa. Tapi ku tahan. Aku takut dia tersinggung.

“lalu apa lagi?” tanyanya dengan wajah polos.

“lalu kita minum tehnya. Kamu benar, memilih sandwich dan biskuit sebagai makanan pendamping.” aku menghirup wangi teh dari asapnya.

“kau pernah tinggal di inggris?” ia menggigit sepotong sandwich.

“tidak. Aku kesana hanya ketika harus mengunjungi nenek.”

“ooh” ia mengangguk. Lucunya.

“menurutku. Teh di amerika lebih simpel. Mereka meminumnya setelah sarapan atau sehabis makan. Dan cara mereka menyeduhnya juga praktis. Teh kantong. Atau jika musim panas, kamu bisa membeli teh kemasan kaleng yang…”

“pernah tinggal di amerika?” ia memotong penjelasanku.

“Tujuh tahun.” jawabku singkat.

“di U.S.A? Negara bagian?” Tanyanya lagi.

“Los angeles, california. Ayahku dosen di U.C.L.A” Jawabku sambil mengunyah kue.

“no kidding, me too. Aku juga pernah tinggal di sana. Sebagian besar keluargaku di sana. Aku sekolah di Santa Monica high school, angkatan 2002” ia kelihatan senang.

Aku tidak menyangka bahwa kami satu sekolah.

“oh ya? Aku juga sekolah disana. Angkatan 2009. Berhubung appa sekarang bekerja di australia, aku pindah ke sini. Tinggal dengan ahjumma.” aku bersemangat sekali. Senangnya bertemu senior. Aku tidak menyangka. Dia juga pernah sekolah di sana. Kami bicara banyak. Tentang sekolah, mata pelajaran, kegiatan ekstra, study tour, dan miss Jude Brougham. Haha, Jude Brougham sangat terkenal dengan tawa sinis dan hobinya menghukum para pelanggar tata tertib.

Di perjalanan pulang, menuju rumahku. Aku dan kibum masih saja sibuk membicarakan sekolah. Kami juga tertawa, ketika membicarakan tentang cerita ‘bloody mary’, yang sempat merebak di angkatanku. Hal ini juga terjadi pada anak-anak perempuan di angkatannya. Padahal, itu hanya cerita film.

“bros itu.” ia mengalihkan pembicaraan.

“itu terbuat dari batu sapphire afrika kan? Dan tidak ada ijin expor. Jadi kurasa, itu hanya di jual disana.” sambungnya.

Rupanya ia memperhatikan bros yang ku pakai. Tapi bagaimana dia bisa tahu tentang batu sapphire? Ah, bodohnya aku. Dia kan bisa membaca dari buku atau browsing di internet.

“A.C, maksudnya alternating current. Unik sekali.” lanjutnya lagi.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar tebakannya yang seratus persen salah. Tapi, aku menghargai usahanya untuk mencoba menebak maksud dari huruf A.C di brosku ini. Bros yang ku tempel di jas almamater.

“A.C standing for Agatha Cotwell. My mom. Dia memang membelinya di johannesburg. Waktu itu, ibu bertugas di south africa. Penanganan gizi buruk. Ini, kata appa. Umma tidak pernah cerita apa-apa padaku. She passed away. Just a moment after gave a birth” aku tertunduk lemas.

“oh, i’m so sorry to hear that. And the lucky baby must be you. Right?” kibum membiarkan aku larut dalam lamunan tentang Umma. Ia sangat menghargaiku. And i appreciate it.

“kau bilang rumahmu di sekitar sini kan?” ia mematikan mesin mobil.

Aku melihat-lihat keluar. Iya, ternyata sudah sampai.

“iya. Itu rumahku.” aku menunjuk sebuah rumah di sudut jalan.

“untuk yang kemarin itu. Terima kasih banyak. Aku benar-benar merasa bersalah. Maafkan aku. Sekali lagi, terima kasih banyak.” kibum menundukkan kepala untuk kedua kalinya.

Aku merasa sangat tidak enak. Aku menolongnya karena kebetulan. Tapi, kibum sangat serius menanggapinya.

“Aku pulang.” tumben, ahjumma tidak menungguku. Dimana dia. Biasanya ia duduk di ruang tamu. Menungguku. Hari ini, ia tidak ada.

“ahjumma.” ternyata bibiku disini. Duduk lemas dengan tangan memegang handphone. Matanya berkaca-kaca melihatku.

“ada apa?” aku berlari memeluk ahjumma.

“aku khawatir, kau kemana saja. Aku takut, jika ayahmu bertanya aku tak dapat menjawab apa-apa.” ahjumma menangis di pelukanku. Aku mengerti perasaannya. Aku yang bersalah, karena mematikan handphone dan tidak mengabari bahwa aku akan pulang telat. Harusnya, aku tidak berbuat hal yang membuatnya khawatir. Aku satu-satunya anggota keluarganya. Keberadaanku disini, sudah cukup membebaninya. Ahjumma, maafkan aku…

***

Aku bertemu lagi dengan pagi. Pagi yang ku benci. Harus kembali ke sekolah. Rutinitas yang paling ku benci ketika harus menjadi diriku sendiri. Kemarin itu, aku hanya beruntung. Saat aku berhasil menjawab tantangan Mrs. Jung. Tawaran taecyeon untuk pulang bersama pun, mungkin sudah tak berlaku lagi hari ini. Dan jessica, aku tidak tahu. Dia mau melakukan apa padaku. Kibum… Aku jadi teringat padanya. Kemarin aku lupa tidak menanyakan nomor handphonenya. Dan kenapa dia bisa tahu aku sekolah di neul paran?

Jam 09.30. Mata pelajaran sejarah dunia. World history class. Songsaengnim membagi kami ke dalam kelompok-kelompok beranggotakan tiga orang. Aku sudah ditunjuk sebagai leader team B dengan materi ‘cold war’. Tak begitu sulit. Hanya saja, siapa dua orang yang akan jadi anggota kelompokku?

“Taecyeon dan jessica, silakan bergabung ke team B.” songsaengnim benar-benar membuatku terkejut. Taecyeon? Jessica? Sepertinya hari sialku kembali datang. Mereka akan larut dalam pembicaraan yang menurut mereka menyenangkan. Dan aku? Aku mengerjakan tugasnya sendirian. Poor my self. Bisa ku tebak. Mereka tidak akan mempedulikanku. Tuh, kan. Sekarang saja mereka saling senyum.

Aku, jessica, dan taecyeon. Kami sekarang duduk di belakang meja yang sama. Aku pasrah, kalau mereka mengabaikanku.

“apa tugasnya?” sepertinya taecyeon tidak seperti yang ku pikirkan.

“cold war..” jawabku datar saja.

“tentang amerika dan uni soviet?” taecyeon kembali bertanya.

“ya itu. Pada awalnya mereka bersekutu. Tapi ideologi mereka yang berbeda satu sama lain akhirnya membuat mereka berada dalam situasi perang dingin.” aku sedikit menjelaskan.

“amerika ingin berjaya dengan gagasan liberalismenya dan uni soviet ingin menutupi dunia dengan komunismenya.” sahut taecyeon.

“betul. Dari situ lah kedua kubu ini secara tidak langsung berebut pengaruh juga simpati. Sampai aksi rangkul merangkul dan dunia pun terpecah jadi dua kubu…”

“blok timur dengan komunismenya dan blok barat dengan liberalismenya. Tapi pengaruhnya sangat dahsyat. Jerman, cina bahkan korea. Dan juga negara-negara di benua amerika. Mereka mengalami dampak buruknya.” taecyeon, tahukah? Dirimu sangat mengagumkan. Perfect. Kau cerdas, baik, dan…… Chullada.

**

“Ini perpus.” aku menyingkirkan tangan jessica dari pundakku.

“apa kau tidak malu? Taecyeon itu milikku.” jessica membentak.

“kau yang tidak tahu malu! Lihat betapa pendek rokmu! Wajahmu, di polesi warna-warni. Aku tidak yakin kau datang untuk belajar.” belum selesai aku membalas perkataannya, jessica menghentikanku dengan sebuah tamparan. Lalu aku di dorongnya ke rak buku. Aku jatuh terkulai. Dan dia menampar pipiku lagi. Teman-teman hanya bisa memandang miris. Mereka mengurumuni kami. Aku dijambak. Aku berusaha memberontak dengan menarik kakinya. Tapi sia-sia saja. Seseorang sepertinya menariknya menjauh. Akhirnya dia melepaskan kepalaku. Aku lemas, hanya duduk terkulai bersandar pada rak buku. Ada yang mengangkat tubuhku. Dia menggendongku. Aku tak sempat melihat wajahnya. Semuanya tiba-tiba gelap.

**

Perlahan, aku melihat langit-langit berwarna biru muda. Terang. Kepalaku berat sekali. Tubuhku terbaring. Seseorang menggenggam tanganku hangat. Taecyeon.. Wajahnya tersenyum mengembang ke arahku. Matanya sembab. Kau kenapa? Aku ingin mengucapkan itu. Tapi mulutku seperti dikunci. Hanya hembusan udara yang keluar.

“aku baru melihat perbuatan sebrutal itu.” taecyeon menyesal.

Aku tersenyum pahit. Dan berharap bahwa ini adalah ulah terakhir jessica. Entah, aku bisa memaafkan atau tidak. Yang jelas, ulahnya kali ini sudah di luar batas. Fisikku memang tidak terluka berat. Tapi apa aku masih sanggup bertemu teman-teman setelah peristiwa ini?

**

Kepala sekolah mempersilakan aku dan jessica meninggalkan ruangannya. Untunglah, kami tidak di skorsing. Kepala sekolah memang memarahi kami. Bagusnya, ia tidak memanggil bibiku. Aku lega. Ahjumma tak boleh tau dengan masalah ini. Atau, dia akan bersedih dan mengembalikanku pada appa. Aku memang sudah tak sanggup tinggal di korea. Rasanya seperti beban, ketika harus menjalani kehidupan di sekolah. Namun, semua ini ada massanya. Aku akan meninggalkan korea setelah pelulusan nanti.

Menjalani hidup sebagai mahasiswa U.C.L.A. Tinggal sendirian di california, aku tidak akan menjumpai banyak hambatan. Aku sudah tinggal lama disana. Appa juga mengizinkan aku kuliah disana.

Jessica meninggalkanku yang termenung sendirian. Tanpa sepatah katapun, ia menghilang dari hadapanku.

**

Sekolah sudah sepi. Yang lain sepertinya sudah pulang.

Kibum. Dia muncul lagi.

“aku kerumahmu. Ahjumma-mu bilang, kau belum pulang. Jadi aku kemari.” ia melirik jam tangannya.

“aku ada urusan dengan kepala sekolah.” aku menutupkan lengan ke ujung bibirku yang memar. Kibum menariknya.

“ada apa? Kau terluka lagi?” ia mengusap pipiku yang memar juga.

“aku tidak apa-apa!” aku menjawab sambil meringis kesakitan. Kibum menarikku masuk ke mobilnya dan membawaku pergi.

**

Sangat sunyi dan tenang. Begitu suasana ditepi danau ini. Tak banyak yang datang. Hanya beberapa orang sedang memancing, dan keluarga yang sedang piknik. Aku duduk di samping kibum. Beberapa kelopak flamboyan berjatuhan. Musim gugur memang sudah dekat.

“waktu kecil, keluargaku sering mengajakku piknik di sini. Ayah juga mengajari memancing. Itu sebelum kami pergi ke california.” kibum melemparkan kerikil ke danau.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Udara di sini sangat segar. Pantas, keluarganya sering piknik disini. Aku bersandar di bahu kibum, dan mulai menangis. Aku merasa damai sekali, bersandar padanya. Sepertinya, bebanku terangkat sedikit. Entah dari mana orang ini datang. Aku rasa, dia datang di waktu yang tepat.

“kau membuat bajuku basah.” katanya, yang membuatku terperanjat kaget.

“kau merusak suasana hatiku.” aku memukul langannya. Dia menarik kepalaku dan menyandarkan di dadanya.

“she’s rose, i’m dandelion.” bisikku dengan air mata meleleh.

“siapa itu rose dan dandelion?” kibum mengelus rambutku.

“dia. Dia cantik. Rambutnya selalu tergerai. Dia seperti rose. Aku.. Apa kau tahu seperti apa dandelion?” aku menatap kibum lekat-lekat.

Kibum mengelilingkan pandangannya mencari sesuatu.

“ini.” ia memetikkan setangkai bunga liar kecil. Kelopaknya kuning seperti bunga matahari. Merambat diatas rerumputan.

“dandelion..” ucapku datar.

“ada apa dengan dandelion?” kibum menyelipkan bunga itu ke daun telingaku.

“rose indah, tapi jika salah pegang tanganku bisa terluka. Dandelion juga indah. Tapi kenapa ya? Dandelion yang satu ini tidak mau menampakkan indahnya?” kibum menarik ikatan rambutku. Aku terkejut. Rambut panjangku tergerai. Aku merapikannya dan mencoba mengambil ikatan rambut yang di ambil kibum.

“kembalikan!” aku berteriak kearahnya.

“tidak. Mulai sekarang, aku tidak mau melihat benda ini di rambutmu.” ia melemparkan ikatan rambutku ke danau.

Aku merapikan rambutku. Belum pernah seseorang selain ahjumma tentunya yang perhatian padaku seperti ini. Sepertinya atau memang iya? Aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Saat di L.A nanti apa aku bisa bertemu orang sepertimu? Kibum sahabatku… Tinggallah di sisiku selamanya.

**

Kibum mematikan mesin mobilnya di depan rumah. Ini sudah pukul tujuh malam. Aku harus mengarang alasan apa pada ahjumma? Haruskah ku bilang hp ku mati? Atau aku habis menengok wali kelas yang sakit? Tidak. Aku tidak boleh membohonginya. Kasihan ahjumma.

“handphonemu!”

“mwo?”

“pinjam hp mu.”

Ku berikan hp ku padanya.

“aku dapat nomor mu!” ia tersenyum girang.

Mwo? Kenapa tidak minta langsung saja? Aku pasti memberikan no hp ku.

“aku pulang.” eh, pintunya tidak di kunci. Mana ahjumma.

“samantha.” ahjumma tersenyum cerah sekali. Kemarin dia menangis karena aku pulang telat. Sekarang dia malah senang gembira.

“tadi anak temanku kesini.” ahjumma menggandengku.

“kau mengenalnya?” lanjutnya lagi.

“siapa?” tanyaku heran.

“kim kibum. Tadi dia kemari. Minta ijin mengajakmu jalan-jalan. Dia tidak menyangka, kalau aku adalah bibimu. Aku juga sama terkejutnya.” ahjumma penuh semangat.

“oh. Dia anak teman ahjumma?” aku tidak kalah kagetnya.

Benarkah? Apa ini yang orang-orang maksud dengan kebetulan? Kalau memang iya, kebetulan macam apa ini? Aku bertemu kibum yang ternyata anak dari kawan lama ahjumma. Ah, apapun itu namanya aku tidak peduli. Yang jelas, kibum benar-benar ada saat aku membutuhkan sahabat yang bisa mensupport dan menguatkanku.

Umma, seandainya umma di sisiku. Mungkin umma lebih banyak mengerti tentang semua ini.

“aku lelah ahjumma..” aku melepaskan gandengan ahjumma dan meninggalkannya. Akan lebih baik ahjumma tidak melihat luka memar di bibir dan pipiku.

**

Umma, saat ini putrimu benar-benar sedang merindukanmu. Aku membutuhkan seseorang untuk tempat bersandar. Mungkin, umma akan lebih tahu dengan hatiku saat ini. Sebenarnya bukan hanya itu. Aku ingin melihat wajahmu. Aku ingin memelukmu. Appa bilang, umma sangat cantik. Umma lemah lembut dan cerdas. Mungkin itu yang membuat appa sangat mencintaimu. Dan sampai hari ini dan mungkin selamanya, appa tidak mau mencari penggantimu. Kami sangat menyayangimu Agatha Cotwell.

Aku menghempaskan diriku ke tempat tidur. Rasa ngantuk, lelah, sakit, semuanya berbaur jadi satu. Handphoneku berdering. Benar-benar malas untuk bangkit. Hanya saja, aku berpikir bahwa itu panggilan dari appa. Tidak, bukan. Ini incoming call dari nomor lokal.

“Yeoboseyo..” jawabku.

“Yeoboseyo.. Belum tidur? Atau baru mau tidur?” suara dari seberang lumayan familiar.

“Aku baru mau tidur. Siapa ini?” tanyaku padanya.

“Ini kibum. Suka dengan jalan-jalan hari ini?” Membuatku sedikit tercengang.

“Oh, kakak kelas. Tentu saja, sangat suka.” Jawabku riang.

“Jangan panggil kakak kelas! Panggil aku oppa saja, akan terdengar lebih akrab.” Yang diseberang terdengar menggerutu.

“Okay, op..pa.” lumayan kaku juga.

“Good! Sekarang oppa-mu yang ganteng ini, menyuruhmu untuk cepat tidur sammy. Dan jangan lupa save nomor ku.” Dengan suara yang dibuat se-dewasa mungkin.

“Ish.. Oppa, narsis sekali. Pasti ahjumma kan yang menyebut-nyebut nama britishku itu. Sampai kau tahu. Ne, akan aku save. Baikkah Mr. Kim, good nite jal ja yo!” jawabku sambil menguap. Di seberang tertawa lepas.

“Jal ja yo!” Ia menutup telponnya.

**

Hari sabtu yang dingin dan mendung. Aku berjalan gontai turun dari bis. Rasanya bosan juga, tiap hari hanya datang ke -dan- pulang dari tempat ini. Tempat apa lagi kalau bukan sekolah. Aku berdiri tegak memandang bangunan empat lantai itu. Sedikit banyak, dia adalah bagian dari kenangan masa remajaku.

Seseorang tiba-tiba menutupkan mantel ke tubuhku. Aku terlonjak kaget. Dan ketika ku lihat, orang itu adalah Taecyeon.

“Cepat masuk! Di luar sangat dingin.” Taecyeon menarikku melewati gerbang. Namja berbadan tinggi ini terus menggandeng tanganku sambil berjalan tegap.

Siswa lain, curi-curi pandang ke arah kami. Aku melihat beberapa orang saling berbisik. Mungkin di antara mereka ada yang berpikir, inilah penyebab Jessica mem-bully ku kemarin.

Taecyeon seolah tidak mempedulikan tatapan-tatapan itu.

“Musim gugur sudah mulai. Cuaca akan sangat dingin. Ini autumn pertamamu di Korea kan?” Entah dengan maksud apa, ia membetulkan mantel dan syal yang melilit leherku. Juga helaian rambut yang menghalangi pandanganku.

Mungkin ini cara dia menjawab tatapan siswa lain yang seolah-olah mencibir kami.

Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan pelan. Dan sebuah tangan yang hangat membelai kepalaku penuh kasih. Ia kembali menggandeng tanganku. Kami pun melanjutkan jalan kami menuju ruang kelas.

 

Cara membuat garaetteok adalah :

 

 

 

1. Bahan-bahan :

 

Tepung beras 300 g

 

Air 110g

 

Minyak wijen 3 sendok makan

 

2 . Cara membuatnya :

 

Tuangkan air sedikit demi sedikit pada tepung beras, kemudian aduk pelan-pelan dengan menggunakan tangan. Haluskan dengan menggunakan tirisan. Setelah kukusan sudah mengeluarkan uap, kukuslah tepung beras itu hingga matang. Setelah matang, angkat lalu dibuat menjadi adonan sambil mengoleskan minyak wijen supaya tidak lengket, hingga kenyal. Setelah itu adonan dibuat dengan bentuk panjang dan bulat . Kemudian oleskan sedikit minyak wijen di luarnya biar tidak langsung mengeras. Nah Garaetteok sudah jadi. Gampang bukan…?  Karena Jajanan ini sangat populer, maka Garaetteok telah diproduksi secara pabrikan,  dan harganya  menjadi relatif murah dan tentu tidak repot .

 

 

 

Cara membuat Tteokbokki ( 떡볶이 ):

 

1. Bahan-bahan :

 

 

 

200 g Teuk (kue beras)

 

1/4 buah bawang bombay

 

30 g wortel

 

2 buah jamur Shitake kering

 

1 buah cabe hijau dan merah

 

1 sdt minyak goreng

 

1 sdt minyak wijen

 

2. Bahan-bahan untuk bumbu

 

1 sdm bubuk cabe merah

 

1 sdm Kochujang ,  taujo cabe merah

 

1 sdm bawang putih yang dicincang halus

 

1/2 sdm gula pasir

 

3 sdm kalu daging

 

sedikit biji wijen, lada hitam, dan minyak wijen

 

3. Cara memasaknya :

 

Tteuk dicampurkan dengan minyak wijen. Potong melintang  bawang bombay dan wortel. Iris tipis jamur Shitake yang telah direndam dengan air panas hingga lunak. Potong melintang cabe hijau dan merah. Campurkan semua bahan untuk bumbu. Panaskan minyak dalam wajan lalu masukkan bumbu. Setelah bumbuh masak, masukkan bawang bombay, wortel, dan cabe. Masukkan dan tumislah hingga bumbu diresap pada tteok. Tteokbokki siap disajikan. ( ref. http://world.kbs.co.kr )

 

Di seoul,  tempat yang terkenal dengan Tteokbokki adalah kawasan Sindang-dong.  Bagaimana dengan anda? mau mencoba ?

 

credit: tazkiana.wordpress.com

 

 

 

 

 

Toppoki (Spicy Rice Cake)

 

 

 

Bahan:

 

300 gram rice cake siap pakai, dipotong-potong sepanjang 2cm.

 

300 gram ikan sarden atau anchovy, suwir-suwir kasar.

 

1 sdt madu.

 

1 sdt kot chu jang (bumbu pedas Korea).

 

100 gram odeng (sejenis baso ikan Korea), dipotong memanjang seukuran 2x5cm.

 

1 sdt biji wijen.

 

1 sdt kot chu ka rhu (paprika bubuk).

 

2 siung bawang putih, cincang halus.

 

¼ sdt garam dan ½ sdt merica.

 

100 gram bawang Bombay, belah dua dan iris memanjang 8300ml air.

 

 

 

Caranya:

 

  1. Panaskan minyak goreng. Tumis bawang putih sampai harum.
  2. Masukkan rice cake, baso ikan, ikan sarden suwir, aduk rata.
  3. Tambahkan air dan kot chu jang, aduk rata. Masukkan paprika bubuk, garam, merica dan potongan bawang Bombay lalu aduk rata kembali.
  4. Terakhir, tambahkan madu, aduk sampai seluruh bahan jadi matang, angkat dan tuangkan diatas piring saji. Taburi biji wijen sebagai pemanis dan hidangkan selagi hangat.

Image