Ayah dan Ibu selalu tak percaya padahal aku sudah berkata jujur. Di balik tembok besar di ujung kompleks memang ada kebun rahasianya.

“Benar Bu, tembok itu punya pintu rahasia yang kadang bisa terbuka lalu terhubung dengan kebun rahasia. Aku dan Marty melihatnya sendiri.”

Dan pada saat itu biasanya Wolter, abangku yang sulung selalu menimpali dengan “Itu hanya potongan adegan film kartun Muggle Bean and Banana Head yang terlalu dia hayati.”

Membuat Ibu makin tak percaya. “Ibu mengerti Jack.” Sebenarnya ia tidak mengerti. Ia hanya pura-pura mengerti supaya aku tak lanjut bercerita.

Aku baru pulang sekolah. Eleanor, Dakota, Marty dan aku mendatangi tembok besar itu. Waktu aku dan Marty memungut bola baseball kami yang jatuh disini, tiba-tiba temboknya berlubang. Lalu, aku jelas melihat ada kebunnya. Ya dari situ aku melihat kebun. Cuma masalah tembok itu bisa tiba-tiba berlubang aku tidak tahu mengapa.

“Ingat-ingat, waktu itu apa yang kau bilang sampai temboknya terbuka.”

“Aku tidak tahu Marty. Aku benar-benar lupa.”

Kami jadi duduk-duduk saja.

Sudahlah kita pulang saja” Eleanor sudah berdiri dan memakai ranselnya.

“Tunggu dulu.” Cegahku. “Bagaimana kalau seandainya kita pulang, pintu rahasia itu malah terbuka?”

Ia jadi duduk lagi.

Kami sudah duduk hampir satu jam dengan terik matahari musim panas Wolverhampton.

Dakota mengeluarkan sesuatu dari tasnya “Sherbet lemon.” Katanya riang. Ia lalu membagi kami permen itu sama banyak.

Tiba-tiba dari belakang kami ada suara bergemuruh. Dan tak kami duga, ya. Tembok itu terbuka.

“Sherbet lemon? Rasa-rasanya aku tak berkata seperti itu.” Aku bertanya pada diri sendiri.

Marty menyenggol tanganku “Aku yang bilang.”

***

Aku masuk mendahului yang lain.

“Tunggu Jack, jangan terlalu jauh. Bagaimana kalau kau tak bisa kembali?” Cegah Dakota. Tapi aku tak mendengarkannya dan aku tak mau mendengarkannya.

Lihatlah! Begitu masuk aku sudah terkagum-kagum. Sebatang pohon dengan macam-macam buah. Aku kembali melangkahkan kaki.

 

 

 

 

 

Advertisements