Jika aku adalah sutradara saat ini maka akan berkata ‘cut!’ melihat seorang gadis menyiram laki-laki itu dengan segelas jus yang ada dihadapannya. Kemarahannya begitu all out. Tumpahan jusnya merata menganai rambut, wajah, dan sebagian kausnya. Aku yakin laki-laki yang sebaya denganku itu tak akan punya muka untuk macam-macam. Ia tak akan berani tampil. Sementara perempuan dengan t-shirt merah ketat yang aku yakini sebagai selingkuhannya hanya bisa memandang dengan tatapan ngeri.

Kini gadis itu berbalik, sibuk melap matanya yang tak mau berhenti mengeluarkan air mata. Ia berlari meninggalkan kantin tapi. Hey, astaga! Dia jatuh. Dia jatuh menabrak Harry. Ya Harry. Mereka bertabrakan. Buku-buku yang ditenteng gadis itu berjatuhan, bercampur dengan buku Harry.

Harusnya habis ini mereka berkenalan, bertukar nomor handphone dan janjian di Hyde Park. Lalu gadis itu melupakan kekasihnya barusan. Tapi sepertinya Harry tak bisa menggunakan kesempatan dengan baik. Karena sang gadis sudah meninggalkannya pergi duluan, sementara dia masih memunguti buku.

“Hey Niall.” Sapanya. Bergabung di mejaku

“Kau kurang tangkas bung.” Gurauku diselingi tawa.

“Kau bercanda? Dia bahkan menangis tadi.”

“Dia bertengkar hebat dengan anak itu. Sepertinya dia kakak kelas kita.” Aku menunjuk seorang anak laki-laki berbadan besar. Yang sedang membersihkan bajunya dengan tissue.

Harry membereskan bukunya. “Apa ini?” katanya sambil mengangkat buku berwarna biru muda.

Aku terkekeh pelan. Bukunya bagus sekali. banyak tempelan kerlap-kerlip membentuk hati atau pun bintang. Lama-lama jadi geli membayangkan buku itu betulan miliknya.

“Apa mungkin punya anak perempuan tadi?” Lanjutnya

“Coba buka. Lihat isinya apa.”

Harry mulai membukanya. Lembar demi lembar. Aku yang ikut membacanya: tidak mengerti. Bahasa apa itu? Hanya paham dengan beberapa foto. Foto anak perempuan tadi. Sepertinya dia orang asia. Matanya kecil, rambut hitam dan kulitnya putih bersih.

“Ada namanya.” Harry berseru girang.

“Liana Calder.” Aku membaca tulisan dilembar paling bawah. “Colaistc Mhuirc Mullingar, jurusan seni rupa.”

Aku langsung meminta buku itu pada Harry, “biar aku saja yang kembalikan karena kami satu gedung. Sama-sama jurusan seni.  Bisa jadi kami mengambil kelas yang sama. Aku akan memberikannya pada kesempatan itu.”

“Mau cari kesempatan?” Tanya Harry sambil menyerahkan buku itu.

“I’d rather go to sleep than find a girl. Aku cuma ksihan pada pemilik bukunya. Ini pasti penting.” Jawabku tegas.

***

Hari ketiga buku ini ku pegang tapi belum juga aku bertemu dengan gadis itu. Apa dia frustasi, lalu mengurung diri setelah bertengkar dengan pacarnya. Ah, masa iya.

Sudah hampir tiga puluh menit aku mengitari sekolah, namun tak urung bertemu. Rasanya lebih baik istirahat dulu. Duduk di bawah pohon ek, sambil mendengarkan lagu Coldplay. Namun sekilas mataku bertemu dengan siluet itu. Rambut yang panjang bergelombang dan perawakan yang semampai. Memakai celana jins pendek dan kaus putih. Itu dia.

“Hey.” Aku berlari menghampirinya. Gadis itu menoleh. Ia nampak menyelipkan helaian rambut dibalik telinganya. “Ini.” Sambil terbata aku menyerahkan buku itu kepadanya.  Ia menyambutnya dengan wajah terkejut.

“Ku pikir ini hilang.” Katanya “Terima kasih banyak.”

Aku hanya menggaruk tengkuk. Tak lama gadis itu mengulurkan tangannya. “Liana Calder” Katanya ramah.

“Niall Horan.” Aku menyambut uluran tangannya.

Tapi tiba-tiba.

“Hey babe..” Si badan besar yang kemarin itu datang. Apa kurang puas dia disiram jus?

Namun Liana tak menghiraukannya. Ia cuma diam lalu kembali konsentrasi dengan lukisannya.

“Hey, jangan pura-pura tak mendengarku.” katanya sambil menarik tangan Liana kasar.

Aku menghempaskan tangan itu “Liana tidak mau.” Entah dapat kekuatan dari mana aku bicara dan bertindak begitu.

“Jangan macam-macam” Balasnya padaku.

Aku angkat bahu dan memilih pergi tanpa mau tahu urusan mereka selanjutnya.

***

 

Advertisements