Aku selalu melihatmu diujung sana. Disudut stadion dengan wajah pucat dan tubuh yang rapuh. Entah dengan alasan apa, namun sungguh aneh ketika melihat seorang gadis begitu terobsesi melihat pertandingan rugby, kendati hanya sekedar latihan.

Aku melambai sesekali, pada gadisku yang tengah berlatih cheers di bibir lapangan sana. Namun hanya sekilas. Karena aku diam-diam kecanduan, mencuri-curi pandang kearahmu.

Tiap selasa, aku berusaha datang kemari. Bukan untuk gadisku. Untukmu. Gadis yang selalu berbaju biru, dengan air muka tenang.  Aku menyingkirkan seluruh jadwalku buatmu. Seluruh waktuku, buatmu.

Hampir saja aku berlari dari tempat dudukku saat kau memegang dadamu dan meringis kesakitan. Kau berlutut, dengan wajah menentang fakta bahwa kau merasakan sakit yang amat sangat. Namun dengan tangguhnya engkau bangkit kembali, meninggalkan aku yang masih terperangah. Melangkah. Sejumput bayanganmu pergi entah kemana.

Sudah dua hari selasa ini aku tak melihatmu disana. Rasanya hadirku disini jadi sia-sia. Padahal harusnya aku melebur dalam acara makan malam di kediaman relasi Ayahku. Memulai debut putera pengusaha ditengah pergaulan sosialita. Namun aku tak pedulikan itu.

Aku  berceloteh, aku disini adalah untuk menemani gadisku. Tapi aku tak yakin bahwa itu sungguhan. Aku bahkan tak lagi ingat rupa gadisku. Kapasitas memoriku hanya cukup untuk menampungmu.

Lamat laun, entah sudah berapa selasa yang aku lewati. Namun dengan setianya aku tetap ada disini. Duduk termangu. Bukan itu sesungguhnya pemandangan yang sedang ku lihat. Bukan pertandingan itu, bukan juga gadisku. Rasa serba tak jelas padamu ini, merenggut segalanya. Apa yang dihadapkan padaku rasanya seperti gurun pasir yang menyengat, dan kau adalah fatamorgana-ku tentang oasis.

Hingga pada….

“Maaf.” Katamu pelan. Keberadaanmu yang tiba-tiba mengejutkanku. Aku melihatmu menumpahkan se-cup minuman pada baju seseorang. Kau betulan ada disini. Kau nyata, bukan lagi fatamorgana. Kita bertemu lagi, ujarku bergemuruh dalam hati.

Orang itu nampak mengumpat-umpat sambil berusaha membersihkan bajunya. Kau hanya sibuk membungkuk sambil minta maaf.

Aku berusaha mendekat membantumu. Tak tega, kala beradu sorot mata denganmu. Sorot mata yang seperti medan magnet. Dan aku berharap kita punya kutub magnet yang berlainan agar saling tarik menarik.

“Hey, kamu disini juga.” Perempuan yang bajunya kena tumpahan minuman berseloroh ke arahku. Dia menatapku dengan sorot mata hangat. Lengannya berusaha memelukku, namun aku menghindar. “I am your girlfriend. What’s the matter?”

Benarkah? Aku bahkan tak ingat bahwa gadis yang bersisian denganku adalah gadisku.

Kau lalu pergi meninggalkan kami. Padahal sebelumnya, aku ingin melonjak dulu penuh kegirangan berhasil menemukanmu dari sekian banyak orang yang berseliweran di Greenwich. Tapi gadisku menyeretku, entah kemana aku tak tahu. Padahal segalaku hanya bermuara padamu.

Sudah banyak hari lewat, namun kau tak juga ku temui. Kali ini betulan gamang, namun tak putus asa untuk menyerah. Kamu yang merenggut hidupku dalam satu sorotan mata. Kau yang harus bertanggung jawab atas segala bentuk kelinglunganku hari ini.

Aku merasa debar jantungku tak keruan. Seperti genderang yang ditabuh namun tak tentu ritmenya. Berusaha aku mencari sebabnya dan ternyata… Siluet biru langit itu disana. Berjalan diantara koridor kelas. Meski begitu ramai, masih dapat kulihat. Karena kau bersinar bagai bintang. Apa gerangan yang membawamu kemari hai gadis selasa? Sekedar terdamparkah? Namun sudi kah kau tinggal untuk beberapa waktu? Tinggal untuk beberapa kali pandangan mata.

Aku yakin kau tak menyadari, bahwa aku ada disini. Memperhatikanmu. Harapanku yang merenggutmu kemari, asal kau tahu.

Sudah berhari-hari dan segalanya nampak normal sampai adegan itu terulang kembali. Kau memegang dadamu dengan wajah panik dan kesakitan. Bibirmu yang biasanya pucat jadi agak biru. Kau jatuh berlutut. Tapi hiruk pikuk itu tak mempedulikanmu. Mungkin perut mereka terlalu lapar, sampai tak dapat membantumu dulu sebelum melahap  menu kantin.

Jadi aku berlari, menggendongmu, mencoba menyelamatkanmu.

***

“Sebelumnya ia tak pernah aku ijinkan keluar. Jadinya malah curi-curi untuk pergi dan daftar di sekolah formal.” Kata Ayahmu. “Jantungnya tak cocok dengan dunia luar.”

Selama ini, tiap aku bertemu kau, itu adalah waktu yang kau curi dari penjara bernama kungkungan? Sebegitu ingin tahunya kah dirimu akan dunia luar. Aku usulkan kau perkuat dulu jantungmu, karena begitu banyak kejutan di luar sana.

Jikalau kau siap, aku lah yang pertama memboyongmu dari kastil ini. Untuk menjajaki ribuan permainan bernama dunia. Namun perkuat dulu denyutmu, perbaiki dulu jantungmu. Bumi terlalu luas untuk ditapaki. Jangan sampai kelelahan membuatmu sekarat. Dan beristirahat selamanya.