Category: CERPEN


Gadis Selasa

Aku selalu melihatmu diujung sana. Disudut stadion dengan wajah pucat dan tubuh yang rapuh. Entah dengan alasan apa, namun sungguh aneh ketika melihat seorang gadis begitu terobsesi melihat pertandingan rugby, kendati hanya sekedar latihan.

Aku melambai sesekali, pada gadisku yang tengah berlatih cheers di bibir lapangan sana. Namun hanya sekilas. Karena aku diam-diam kecanduan, mencuri-curi pandang kearahmu.

Tiap selasa, aku berusaha datang kemari. Bukan untuk gadisku. Untukmu. Gadis yang selalu berbaju biru, dengan air muka tenang.  Aku menyingkirkan seluruh jadwalku buatmu. Seluruh waktuku, buatmu.

Hampir saja aku berlari dari tempat dudukku saat kau memegang dadamu dan meringis kesakitan. Kau berlutut, dengan wajah menentang fakta bahwa kau merasakan sakit yang amat sangat. Namun dengan tangguhnya engkau bangkit kembali, meninggalkan aku yang masih terperangah. Melangkah. Sejumput bayanganmu pergi entah kemana.

Sudah dua hari selasa ini aku tak melihatmu disana. Rasanya hadirku disini jadi sia-sia. Padahal harusnya aku melebur dalam acara makan malam di kediaman relasi Ayahku. Memulai debut putera pengusaha ditengah pergaulan sosialita. Namun aku tak pedulikan itu.

Aku  berceloteh, aku disini adalah untuk menemani gadisku. Tapi aku tak yakin bahwa itu sungguhan. Aku bahkan tak lagi ingat rupa gadisku. Kapasitas memoriku hanya cukup untuk menampungmu.

Lamat laun, entah sudah berapa selasa yang aku lewati. Namun dengan setianya aku tetap ada disini. Duduk termangu. Bukan itu sesungguhnya pemandangan yang sedang ku lihat. Bukan pertandingan itu, bukan juga gadisku. Rasa serba tak jelas padamu ini, merenggut segalanya. Apa yang dihadapkan padaku rasanya seperti gurun pasir yang menyengat, dan kau adalah fatamorgana-ku tentang oasis.

Hingga pada….

“Maaf.” Katamu pelan. Keberadaanmu yang tiba-tiba mengejutkanku. Aku melihatmu menumpahkan se-cup minuman pada baju seseorang. Kau betulan ada disini. Kau nyata, bukan lagi fatamorgana. Kita bertemu lagi, ujarku bergemuruh dalam hati.

Orang itu nampak mengumpat-umpat sambil berusaha membersihkan bajunya. Kau hanya sibuk membungkuk sambil minta maaf.

Aku berusaha mendekat membantumu. Tak tega, kala beradu sorot mata denganmu. Sorot mata yang seperti medan magnet. Dan aku berharap kita punya kutub magnet yang berlainan agar saling tarik menarik.

“Hey, kamu disini juga.” Perempuan yang bajunya kena tumpahan minuman berseloroh ke arahku. Dia menatapku dengan sorot mata hangat. Lengannya berusaha memelukku, namun aku menghindar. “I am your girlfriend. What’s the matter?”

Benarkah? Aku bahkan tak ingat bahwa gadis yang bersisian denganku adalah gadisku.

Kau lalu pergi meninggalkan kami. Padahal sebelumnya, aku ingin melonjak dulu penuh kegirangan berhasil menemukanmu dari sekian banyak orang yang berseliweran di Greenwich. Tapi gadisku menyeretku, entah kemana aku tak tahu. Padahal segalaku hanya bermuara padamu.

Sudah banyak hari lewat, namun kau tak juga ku temui. Kali ini betulan gamang, namun tak putus asa untuk menyerah. Kamu yang merenggut hidupku dalam satu sorotan mata. Kau yang harus bertanggung jawab atas segala bentuk kelinglunganku hari ini.

Aku merasa debar jantungku tak keruan. Seperti genderang yang ditabuh namun tak tentu ritmenya. Berusaha aku mencari sebabnya dan ternyata… Siluet biru langit itu disana. Berjalan diantara koridor kelas. Meski begitu ramai, masih dapat kulihat. Karena kau bersinar bagai bintang. Apa gerangan yang membawamu kemari hai gadis selasa? Sekedar terdamparkah? Namun sudi kah kau tinggal untuk beberapa waktu? Tinggal untuk beberapa kali pandangan mata.

Aku yakin kau tak menyadari, bahwa aku ada disini. Memperhatikanmu. Harapanku yang merenggutmu kemari, asal kau tahu.

Sudah berhari-hari dan segalanya nampak normal sampai adegan itu terulang kembali. Kau memegang dadamu dengan wajah panik dan kesakitan. Bibirmu yang biasanya pucat jadi agak biru. Kau jatuh berlutut. Tapi hiruk pikuk itu tak mempedulikanmu. Mungkin perut mereka terlalu lapar, sampai tak dapat membantumu dulu sebelum melahap  menu kantin.

Jadi aku berlari, menggendongmu, mencoba menyelamatkanmu.

***

“Sebelumnya ia tak pernah aku ijinkan keluar. Jadinya malah curi-curi untuk pergi dan daftar di sekolah formal.” Kata Ayahmu. “Jantungnya tak cocok dengan dunia luar.”

Selama ini, tiap aku bertemu kau, itu adalah waktu yang kau curi dari penjara bernama kungkungan? Sebegitu ingin tahunya kah dirimu akan dunia luar. Aku usulkan kau perkuat dulu jantungmu, karena begitu banyak kejutan di luar sana.

Jikalau kau siap, aku lah yang pertama memboyongmu dari kastil ini. Untuk menjajaki ribuan permainan bernama dunia. Namun perkuat dulu denyutmu, perbaiki dulu jantungmu. Bumi terlalu luas untuk ditapaki. Jangan sampai kelelahan membuatmu sekarat. Dan beristirahat selamanya.

Mandek Ide

Awan hitam seperti menggelayut di otaknya. Menghalangi untuk berpikir jernih. Sudah tiga cangkir teh manis, tandas. Kertas berserakan dimana-mana. Tiap halaman yang selesai diketiknya, ia lempar begitu saja. “Sampah.” Gumamnya pelan.

Persetan yang dimaksud orang dengan ide, yang orang berandai-andai sebagai bohlam lima watt yang menyala benderang dalam kepala. Atau yang Dee bilang sebagai Hemonculus, manusia kecil di dalam kepala yang dihipotesiskan sebagai penentu dan determinator setiap tindakan, manusia kecil itu sedang tidur sejak tiga jam yang lalu. Otaknya benar-benar sedang berdemonstrasi.’Aini Dandelion’ tulisnya di halaman terakhir.

Laptop itu ia biarkan menyala. Tangannya bergerak mengikat rambut panjang yang sejak tadi tergerai. Ia pun menyerah dengan keadaan dan pergi tidur.

***

Langkah kecil itu berhenti di sebuah ruko kawasan perkantoran, tepat di bawah plang pintu ‘MuffinSheet’ perusahaan penerbitan tabloid remaja. Kebiasaan yang sudah berlangsung selama dua tahun. Tidak, ini bukan kebiasaan. Ini lah tuntutan.

Hawa sejuk menyeruak begitu ia masuk ke ruang kerjanya. Intuisinya menginstruksikan untuk segera menyalakan komputer dan melanjutkan naskah tadi malam. Ini baru pilihan. Ia sudah lelah jadi editor, mengkritik karya orang, edit sana-sini, kadang di sortir. Ia pun ingin merasakan nikmatnya membuat sebuah karya. Dan kini ia dalam tantangan bosnya ‘sebuah cerpen bersambung selama 30 edisi, atau tetap sebagai editor.’ lagi-lagi ia harus manut.

“Kopi?” Seorang pria dengan lesung pipi yang cukup dalam, menaruh cangkir bergambar kura-kura ninja di mejanya. Masih dengan asap mengepul.

“Thanks.” Balasnya singkat.

“Bikin karya apalagi tulisan memang kelihatannya mudah. Tulis segala sesuatu yang terbersit dalam kepalamu. Lalu jabarkan jadi kata-kata yang sampai berlembar-lembar banyaknya. Tapi kalau sudah ketemu sama setan mandek, gak ada yang bisa tahan.”

“Bener juga omongan kamu, Ras.”

“Saya pikir kamu udah mumpuni jadi editor, buat apa nyusah-nyusahin diri jadi penulis? Apalagi di target.”

“Saya bosan, memilah karya-karya picisan yang dikirim pembaca. Melulu soal mewek. Cinta menyedihkan, cinta bertepuk sebelah tangan. Tema lumrah. Dan tolong penuturannya jangan menyedihkan.”

Rasya meledakkan tawanya. “Ayolah. Pangsa pasar kita itu anak remaja.”

“Karena pembaca kita remaja, haruskah ceritanya selalu bertema galau dan berbunga-bunga. Kalau begitu, bagaimana kalau buku teks matematika di tiap SMA kita ganti dengan novel. Bukankah pangsa pasar Sekolah Menengah Atas juga anak-anak remaja?” Aini meneguk kopinya.

“Lalu karya seperti apa? Cerita bersambung tentang seorang penulis yang sedang kamu kerjakan itu. Yang seperti itu yang menurut kamu layak muat?” Rasya tersenyum membuat lekukan di pipinya terlihat makin dalam.”Entahlah Ras, saya juga bingung. Mungkin bahasa mereka saja yang terlalu lebai.” Aini tertawa datar.

***

Dihibur gemuruhnya suara hujan deras diluar, Aini kembali menggeluti sesuatu yang disebutnya karya. Namun yang terjadi, adalah kebuntuan yang sama dengan yang kemarin malam. Haruskah mundur?? Benaknya bertanya-tanya. Tapi sudah terlanjur. Ini series kelima belas. Benaknya pula yang menjawab. Ini baru tepat kalau di andaikan ‘tikus yang lari dari kejaran kucing’. Ujung-ujungnya tetap tertangkap. Ia kembali mengetik. Sudah hampir satu halaman, tapi cita rasanya tetap sama. Hambar. Ia kembali tersungkur.

Rasya baru saja kembali dari pantry membawa dua cangkir kopi di tangan kiri dan kanan. Tapi sepertinya kopi yang di tangan kanan takkan berguna karena komputer di sebelah mejanya mati, dan tak ada kertas bertebaran di sekitarnya.

“Kemana dia?”

Ini adalah pertaruhan. Ia berpikir sengit. Bertahan jadi editor dan cerita bersambungnya jadi mati suri, atau menjalani sesuatu yang baru yang benar-benar ia inginkan. Penulis. Menelurkan sebuah karya. Pikirannya menggaris bawahi sebuah kalimat, ‘deadline dua hari lagi’, yang berarti besok. Sementara tiap kertas yang meluncur dari printer, ia baca sejenak, berpikir, lalu ia lempar ke segala arah. Rasanya kamar yang ia diami saat ini seperti pesawat boeing 737 yang meledak berkeping-keping.

Dalam situasi seperti ini, Hemonculusnya terasa menggeliat terbangun. Tubuhnya dialiri listrik dan bohlam itu menyala lagi. Sebelum lupa akhirnya ia menulis semuanya. Detail. Tak terlewat satu titik pun.

***

“Saya dengar series ke lima belas sudah sampai ke editor?”

“Yup.”

“Bukannya kamu udah bener-bener menyerah sama cerita bersambung itu?

“Siapa bilang? Hemonculus ku sudah bangun. Aku bukan lagi pujangga yang mati suri.”

“Ceritanya?”

“Ceritanya tokoh penulis ku itu lagi mandek ide. Frustasi gak bisa berkarya lagi. Tapi dia dapat pencerahan dari teman satu team-nya. Akhirnya dia bisa berkarya lagi.”

“Epilognya kurang seru. Harusnya gak cuma bisa berkarya lagi. Mungkin ada traktiran di Coffee Bean untuk sang pencerah.” Rasya memamerkan lesung pipinya, sambil mengulurkan secangkir kopi.

“Boleh. Kalau series yang ke lima belas itu sampai di tangan pembaca.” Aini menerima uluran cangkir itu.

Unpredictable Getting Closer

Jarinya yang lincah menekan tuts keyboard terangkat sejenak. Ia nampak berpikir dulu apa yang harus ditulis selanjutnya. “Ya udah, lo sabar aja dulu. Mungkin lo bisa muncul tapi secara gak langsung. Pakai pertanda. Biarlah cewek itu yang menyadari keberadaan lo dengan sendirinya.” Tulisnya. Ia lalu mengklik kotak biru bertuliskan reply.

“Hanaz!”

Daun pintu warna cokelat tua itu terbuka pelan. Hanaz buru-buru mengklik icon minimize, dan yang muncul kini adalah makalah ekonomi yang tak rampung-rampung dikerjakan menggantikan situs GettingCloser.com yang sejak tadi digelutinya.

“Eh, Mami.” Sapanya dengan senyum yang dibuat-buat.

“Belum tidur? Besok kesiangan lho!”

“Belum. Tugasnya belum selesai. Susah banget Mam.” Gerutunya. Seolah ia memang tengah sibuk berkutat dengan tugas sekolahnya.

“Oh, saking susahnya Mami denger kamu sampe ketawa tergelak, bahkan nyaris cekikikan.” Smash Maminya ngena, sambil mengikat piyama tidurnya.

Hanaz garuk-garuk kepala “Oh, itu. Aku kepikiran si Ivan Mam. Masak nih Mam, tadi siang dia kan ketiduran di kelas. Udah gitu ketahuan sama guru sosiologi. Pas ditegor dia malah ngeles ‘Saya pusing Pak mikirin negara gak maju-maju, sampe ketiduran’.” Hanaz bercerita menirukan logat Ivan teman sekelasnya. Apa yang Ia ceritakan memang seratus persen benar. Yang tidak benar itu adalah, tujuan dia menceritakan alasan itu buat membohongi Mami supaya tidak diomeli.

Yah, Mami kok gak ketawa. Gak lucu ya? Alamat nih… Benaknya.

“Hmm.. Sudah tidur sana!” Siluet Mami menghilang dibalik pintu yang tertutup.

Hanaz menepuk dadanya, sambil menghembuskan nafas pelan. Ia lalu berbisik penuh kemenangan “Uh, Mami kece deh.”

                                                                                                                     ***

Hanaz, Ina, Amel, Restu dan Liam. Teman satu geng ‘Unpredictable’ sengaja diberi nama begitu karena mereka sendiri gak tahu kenapa bisa jadi dekat. Kenapa bisa suka curhat-curhatan kalau lagi galau. Atau conference call sampe malam kalau lagi suntuk dan gak ada kerjaan. Atau mungkin kepribadian mereka yang serba unpredictable.

Hanaz: masih ada bule-bulenya tapi sering dikecam bule gagal sama empat teman lainnya. Gara-gara dia gak menguasai bahasa Ayahnya, Bahasa Belanda. Gitu-gitu juga Hanaz anggota OSIS yang berani tampil.

Restu: Anggota ekskul Taekwondo yang punya perasaan paling halus dibalik tampilannya yang sangar.

Ina: Juru kunci mading yang sering kena tegor karena lebih cocok jadi pen-sortir karya siswa dari pada juru kunci. Alasannya ‘gak layak muat’. Lalu HVS itu dicabut dan dibuang sembarangan.

 Amel: Hobi sama IT, bikin program atau aplikasi. Cenderung bikin aplikasi nyeleneh yang bisa bikin temennya ngakak.

Sementara Liam: Keren, masih bule juga, tapi dia gak termasuk gagal. Lebih milih gaul sama empat cewek unpredictable itu, ketimbang jadi sosok populer dan little bit mysterious. Hanaz dan Liam tinggal di komplek yang sama, dan tanpa sengaja rumah mereka berhadapan.

Kelimanya juga punya ide sama: “Biar makin beken gimana kalo nampil di malam pensi, biar makin eksis. Disanjung adik kelas, disayang kakak kelas.”

Segala yang ada pada diri mereka memang unpredictable.

Kini para unpredictable itu tampak khusyuk dengan buku PR matematika masing-masing. Harus beres sebelum jam istirahat selesai, atau Pak Nurahman menjemur mereka sampai kulitnya berubah jadi sun tan eksotis jam sebelas nanti.

Tiba-tiba “Keren, ya! Oh, buatan Mahasiswa Teknik UI? Wah, lama-lama bisa nyaingin Twitter nih, GettingCloser.com” Cerocos Wina teman sekelasnya dari balik tabloid ‘Keren Beken’.

Lima wajah yang tadinya datar, seimbang, equilibrium, kini jadi mendongak penuh minat. Mata mereka memperhatikan Wina. Ah, bukan. Mereka memperhatikan apa yang diucapkan Wina barusan.

“Gue juga ikutan GettingCloser.” Timpal restu lebih kepada diri sendiri, menanggapi ucapan Wina.

“Udah hampir setahun gue jadi member. Kita kan saling follow cong.” Ina nyengir.

“Hahaha.. Bahkan tiap malam kita bikin rusuh. Cuma Hanaz dan Liam doang yang kudet alias kurang up date.” Amel membumbui.

“Gue sih gak minat. Kayak orang kesepian. Kayak gak punya temen aja ikutan gituan. ” Jawab Hanaz pura-pura. Jaga image. Bisa malu kalau sohibnya tahu ia menjadikan GettingCloser  ladang buat garap curhatannya tiap malam.

“Bukan urusan punya atau gak punya teman, atau seberapa kesepiannya diri lo. Ini kan seru-seruan.” Restu mengajak Amel dan Ina, ber-tos ria.

Sementara anggota paling ganteng Liam, hanya berseloroh “Rame mulu nih cewek-cewek. Gak konsen.”

“Sorry, Prince.” Jawab keempatnya kompak.

Ngomong-ngomong soal GettingCloser, Hanaz jadi ingat sama Mars. Teman dumay yang di follownya. Cerita banyak soal jadi secret admire dan gak bisa secara gentle ngungkapin perasaan karena takut merusak persahabatan. Hal yang hampir sama dengan yang dia alami di dunia nyata. Setidaknya tiap dua hari sekali ia dapat kiriman surat di lokernya. Kalo tak ada surat, biasanya boneka kecil, atau gantungan kunci yang unik menyambutnya dengan manis. Tentunya dari seseorang yang tak jelas identitasnya. Padahal Ia selalu mengunci lokernya tiap pulang sekolah. Gak mungkin kan Pak Wagimin sang juru kunci duplikat yang menaruhnya. Hanaz jadi bergidik ngeri.

Taruh tas, buka sepatu, lalu membanting badannya ke tempat tidur. Agenda Hanaz siang ini. Sambil berguling-guling malas, Ia membaca sesuatu yang diambilnya dari laci. Surat dari si pengagum rahasia. Hanaz membacanya teliti, satu per satu. Berharap mendapatkan petunjuk. Isinya ada puisi, ajakan makan siang di kantin. Yang lebih aneh, suatu hari si pengirim surat itu bilang bahwa dia akan pulang bareng Hanaz. Padahal sampai hari ini pun dia gak pernah pulang sekolah selain nebeng mobil Liam bersama tiga sohib lainnya. Kadang si penggemar rahasia itu bertutur seolah mereka sudah dekat sejak lama.

Ia jadi ingat Mars lagi. Apa mungkin dia?? Bisa saja dia adalah teman satu sekolahnya yang  memakai identitas sebagai Mars. Hanaz berkaca pada pengalaman. Ikutan GettingCloser secara diam-diam. Sebagai Kitty. Tapi bisa kah??? Di dunia nyata, cuma jadi secret admire. Sementara di Getting Closer, jadi teman curhat. Gak mungkin. Ini cuma kejadian di film. Hanaz mengacak rambutnya frustasi. Lalu memilih pergi mandi.

                                                                                                                              ***

Sambil membaca novel, Liam membiarkan Laptopnya menyala dengan keadaan online di GettingCloser. Tak lama berselang terdengar bunyi ‘dung’ tanda ada pesan masuk di Treasure Box nya, lalu sederet tulisan muncul.

Kitty: Hei Mars, lo belum tidur kan??

Mars: Belum. Gue lagi baca novel. The Lord of  The Ring.

Kitty: Rajin banget lo.

Mars: Ngilangin suntuk.

Kitty: Gimana usaha lo? Sukses?

Mars: Belum membuahkan hasil.

Kitty: Mars nanti gue lanjut. Gue mau cabut nih. Penting.

Belum sempat Liam membalas, ada video call di Laptopnya. Begitu di klik answer, empat wajah galau langsung mencuat di layar laptopnya.

“Hai prince.” Seru keempatnya kompak.

“Hai fans!” Jawabnya ramah.

Wajah-wajah cantik itu langsung menatap jengah. Ada yang melotot, manyun, alisnya naik sebelah atau mangap. Mempersoalkan sapaan Liam barusan “fans”.  

Sampai Restu , Amel, Ina, Liam dan Hanaz kelimanya terlibat percakan seru. Saling sanggah, saling ejek, saling tunjuk. Sampai akhirnya satu per satu tumbang. Tak sadarkan diri sampai pagi. 

                                                                                                                       ***

Hanaz menarik udara lalu meniupnya pelan “Ada lagi.”

Liam yang berdiri tepat disebelahnya menanggapi enteng. “Dia bukan gak punya keberanian. Ada sesuatu yang menurut si secret admire itu lebih penting dari pada perasaannya.”

Hanaz berdecak gusar. Kalau begini tiap hari, bisa mati penasaran gue.

“Eh lo kok…” Hanaz memandangi punggung Liam yang makin menjauh lalu menghilang dibalik pintu kelas “bisa tahu…???” Ia buru-buru membereskan loker dan mengikutinya.

Hanaz duduk dibalik mejanya menyangga wajah dengan kepalan tangan kanan. Menatap Liam sejurus. Sosok yang diamatinya tengah serius membaca. Hanaz tersentak saat membaca tulisan di covernya. Novel berjilid merah bertuliskan The Lord of The Rings. J. R. R. Tolkien. Ia ingat pada message Mars semalam Gue lagi baca novel. The Lord of  The Ring. Ia menggeleng sambil mengurut keningnya pelan “Mungkin cuma kebetulan.”

Pulang sekolah, lima unpredictable itu kumpul-kumpul di rumah Ina, membahas projek mereka untuk tampil di malam pensi yang tinggal menghitung hari. Sekaligus latihan karena mereka mau menyanyi sambil akustikan. Awalnya mereka memilih lagu Westlife: Swear It Again yang sangat cocok dengan background persahabatan mereka. Namun Liam berubah pikiran. Ada sebuah lagu baru yang terdengar lebih klik ditelinganya. One Direction: They Don’t Know About Us.

Liam membagi kertas berisi lirik itu pada kawannya satu persatu. Mereka mulai membacanya. Kecuali Hanaz. Keputusan Liam untuk mengganti lagu membuatnya jadi malas latihan. Sejak tadi, dia hanya mengutak-atik BB-nya.

“Seriusan nih?? Kita harus mulai lagi dari awal dong. Sementara gue susah payah hafalin tuh lagu yang kemarin.” Elak Restu.

“Ini lebih cocok.” Liam meraih gitarnya. Ia memperkenalkan lagu itu pada teman-temannya.

Liam berusaha menyanyikannya dengan artikulasi super jelas. Supaya teman-temannya mudah menghafal

 

“People say we shouldn’t be together

We’re too young to know about forever

But I say they don’t know what they talk talk talkin’ about

Cause this love is only getting stronger…………….”

Ina nampak menghayati liriknya dan manggut-manggut setuju. Begitu pun Amel. Restu sedang berusaha mencernanya. 

 

“They don’t know about the things we doThey don’t know about the I love you’sBut I bet you if they only knewThey will just be jealous of usThey don’t know about the up all nights

They don’t know i’ve waited all my life

Just to fall in love it feels right

Baby they don’t know

They don’t know about us

Kembali Hanaz tersentak oleh sosok Liam. Selesai Liam menyanyikan part itu Hanaz mengamati kertas yang ada di genggamannya. Ia membaca kata demi kata lirik lagu itu. Terutama bagian chorus, yang mirip-mirip dengan isi surat dari si secret admire pagi tadi. Masihkah ini kebetulan?

                                                                                                                            ****

Hanaz membuka GettingCloser-nya lalu menuliskan “Rumit!” Sebagai judul postingan-nya.

Seseorang mengirmkan feed back “Apa yang rumit?”. Ternyata dari Mars.

Ia segera membalasnya “Bukan apa-apa.”

Mars kembali mengirimi feed back “Gue harap lo baik-baik aja. Gue udah mulai jalani ide lo. Kayaknya bakal sukses.”

“Terus tanggapan cewek itu gimana????”

“Kayaknya dia belum ngeh. Tapi sesuai ide lo, gue bikin pertanda biar dia ngeh sama keberadaan gue.”

“Terus???”

Mars lalu menceritakan semuanya. Tentang pertanda –pertanda itu, tentang gadis yang ia kagumi itu. Hanaz membekap mulutnya membaca satu persatu kata yang dituturkan Mars. Semuanya mengarah pada dirinya. Benarkah ini. Atau kah ia harus  tenggelam lagi dalam pikiran “sekedar kebetulan”.

Hanaz punya ide, jika Mars dan Liam adalah orang yang sama, ia yakin ide ini akan berhasil seratus persen.

“Lo bisa tengok ke luar jendela?? Di langit banyak bintang kerlap-kerlip.”

Hanaz lalu berlari ke muka jendela menyingkap sedikit tirai. Mengintip si penghuni kamar yang ada di seberang kamarnya. Dari situ kelihatan penghuni kamar yang tak lain adalah Liam sahabatnya keluar menuju balkon lalu mematung berdiri sambil mendongak ke langit. Mulutnya seperti berkata-kata.

Hanaz menutup kembali tirainya. Ia nampak menitikkan air mata. Jadi itu, tersangka yang bisa membuatnya terkena serangan jantung karena selalu membuatnya berdebar tak karuan lewat suratnya. Tersangka yang bisa saja membuatnya mati penasaran gara-gara tak pernah meninggalkan identitas di tiap surat-suratnya. Hanaz kembali menghadap laptopnya. Ia putuskan untuk menutup akun GettingCloser-nya.

                                                                                                                        ****

“Tumben lo agak dieman.” Ina menyenggol temannya pelan.

“Masa? Kayaknya gue biasa aja.” Hanaz menjawab sekenanya.

“Hei gals.” Suara itu. Suara yang Ia hafal sekali.

Benar, Liam sudah berdiri di belakangnya. Hanaz jadi kikuk, canggung dan malu. Semuanya tumpah ruah jadi satu.

“Gue mau ke toilet.” Ujarnya terbata.

Dia bahkan gak merasa gugup sedikit pun saat deket gue. Smentara gue, setelah tahu dia punya rasa malah jadi canggung. Gak bisa lama-lama deket dia. Apa mungkin gue salah orang???                                                 

Berawal dari situ Hanaz mengurangi intensitas pertemuannya dengan geng unpredictable. Ia sering menolak ajakan makan siang bareng di kantin. Atau mangkir dari latihan nyanyi. Ia mau pergi dengan yang lainnya kalau Liam tidak ikut bersama mereka. Dan ini berlangsung sudah berhari-hari. Liam pun merasa, ada sesuatu yang berbeda dengan Hanaz. Tak seceria dan tak serame biasanya. Lebih suka menghindar, jangankan bertemu bertatap mata pun tidak.

“Naz, jangan langsung pulang. Kita ke MOI yuk cari makan!” Ajak Amel.

“Liam ikut?”

“So pasti lah. Kenapa?”

“Gak jadi. Gue balik duluan ya. Naik busway aja.” Hanaz buru-buru pergi.

Ketiga temannya menggeleng tak mengerti.

                                                                                                                    ****

Sudah berhari-hari dan Hanaz tak tahan lagi. Ia menyambar ponselnya lalu mengirimkan pesan singkat untuk Liam. “Gue udah tahu semuanya.”

Tak lama ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Liam.

“Hallo”

“Hallo, naz lo gak salah kirim kan?”

“Salah kirim?”

“SMS tadi maksudnya apa?”

“Gue udah tahu semuanya. Lo secret admire itu kan? Lo yang kirim surat ke loker gue. Yang selalu kirim hadiah.”

“Lo udah tahu?”

“Kok lo tega bikin gue kelihatan kayak orang bodoh. Bingung. Apa lo pengen gue sedikit demi sedikit mati penasaran??”

“ Naz…..”

Belum sempat Liam bicara Hanaz menyudahi percakan ponsel itu. Ia sendiri bingung. Kenapa bisa seperti ini? Semuanya terasa seperti permainan. Bahkan ia ingat, dirinya sendiri yang minta supaya Mars yang ternyata Liam mulai menujukkan diri. Tak usah menyatakan terang-terangan. Cukup muncul dengan pertanda. Yang membuat gadis pujaannya menyadari keberadaannya dan Liam benar-benar melakukan permintaannya.

                                                                                                                         ****

Pensi diselenggarakan nanti malam. Aktifitas belajar diliburkan dan para siswa membantu untuk dekorasi. Dalam situasi ini unpredictable curi-curi waktu untuk gladi resik. Mereka bernyanyi dengan baik. Begitu pula Liam dan Ina keduanya mengiringi dengan permainan gitar yang baik. Mereka siap tampil. Namun tetap saja rasanya tak seperti kemarin-kemarin. Kekompakan mereka datar. Tak ada unsur emosionalnya.

“Gue gak tahu apa yang terjadi sama kalian berdua sampe main kucing-kucingan segala. Akhir-akhir ini rada beda. Dan kami bertiga pengen kalian seleasiaiin sebelum kita tampil. Kalau nggak, penampilan kita hancur.” Tegas Restu ke arah Liam dan Hanaz yang berakting seolah tak terjadi apa-apa.

“Rasa-rasanya gue gak main kucing-kucingan. Gak punya masalah sama dia.” Hanaz mengarahkan telunjuknya ke arah Liam.

Liam langsung berdiri dan menaruh gitarnya. “Lo bener tu, ada hal yang mesti gua dan cewek ini selesaiin.” Hanaz memalingkan wajah saat mendengarnya.

“Terserah. Kita sebagai sahabat cuma khawatir aja. Akhir-akhir ini, lo naz sering banget mangkir dari unpredictable. Lo juga Liam, lo ikut-ikutan. Ditambah kalian berdua gak mau tegoran.” Timpal Ina.

“Gue harap masalah sekecil apapun, gak akan ngeruntuhin kita berlima. We have the promise, about stay forever. Mungkin menurut orang ini sederhana. Tinggal ngumpul  berlima, terus seru-seruan bareng. Tapi bagi gue berbeda. Kita gak sesederhana itu.” Amel nampak bergerak menyapu seseuatu di pelupuk matanya.

“So, bicarakan dengan kepala dingin. Kami pergi makan duluan ya.” Restu berdalih. Sengaja ia akhiri sebelum ada air mata yang jatuh lebih banyak.

Ketiganya pergi. Tinggal Liam dan Hanaz. Keduanya sama-sama diam. Sibuk dengan isi pikiran masing-masing anatara percaya dan tidak. Suasananya berubah seratus delapan puluh derajat dari beberapa hari lalu. Biasanya saat mereka berkumpul selalu ada celetukan riang atau seloroh yang mengundang tawa. Hari ini tak sama. Keduanya bertingkah seperti idiot yang pura-pura tak saling kenal. Saling menganggap satu sama lain sebagai orang asing.

“Gue minta maaf.”

Hanaz diam.

“Gue minta maaf kalau apa yang gue lakuin selama ini bikin lo gak berkenan.”

Hanaz masih diam.

“Gue minta maaf. Gue cuma takut kalo perasaan yang gue miliki buat lo bakal menghancurkan segalanya.”

Hanaz tetap diam.

Liam merasa ngilu dalam dadanya. Apakah Hanaz membencinya atau apa namanya. Sampai tak mau bicara dengannya. Harga dirinya sebagai laki-laki runtuh seketika. Tetesan air mata itu mulai mengalir di kedua pipinya.

“Kenapa lo takut?” Hanaz tiba-tiba bicara.

“Gue takut naz. Dalam hubungan cinta itu gak ada kata selamanya. Sedangkan sahabat?? Lo pernah denger gak ada orang yang punya mantan sahabat. Gue gak mau mengobrak-abrik persahabatan kita.”

“Kalo itu maksud lo, harusnya lo gak jadiin itu sebagai ketakutan. Kenapa gak mencoba dan berusaha membuat perasaan lo itu bertahan buat selamanya? Gak akan ada yang hancur kan?”

Hanaz bangkit. Ia tak kuat membiarkan air matanya tumpah ruah di depan Liam. Ia pergi meninggalkannya sendirian.

Liam tersentak mendengar perkataan Hanaz tadi. Otaknya rasanya lambat mencerna. Ia seperti menekan tombol rewind di tape recorder. Berusaha membuat perusahaan lo itu bertahan untuk selamanya. Apa mungkin? Liam langsung berlari mengejar Hanaz, tapi tidak dia temukan. Entah pergi kemana anak itu.

“Halo, tu gue minta bantua lo…”

                                                                                                                      ****

Malam pensi itu dimulai dengan pembukaan meriah. Semuanya punya giliran tampil. Meski lebih di dominasi oleh anak-anak kelas tiga. Ada yang bawa penampilan teater, bernyanyi, modern dance, dan film pendek. Liam cs masih duduk di depan panggung. Menonton. Giliran tampil masih jauh. Sesekali mereka tertawa saat pemutaran film pendek tentang sekolah mereka, yang dibuat oleh anak kelas satu.

Seorang panitia mendekat. Lalu menepuk bahu Liam pelan. “Mau nampil gak bang? Abis ini giliran lo nih.” Suaranya berbisik.

“Oh, oke.” Liam pergi meninggalkan empat temannya yang khusyuk dengan tontonannya saat ini.

Selain Restu, ketiga cewek itu terkaget-kaget melihat Liam tampil di panggung sendirian.

“Kok kita gak diajakin sih?” Tanya Amel.

“Iya. Ngaco tuh si bule.” Tambah Ina.

Hanaz diam. Malas menanggapi. Lebih baik begitu. Kalau dipaksakan tampil berlima pun hasilnya akan kurang bagus. Ia sadar diri, tak punya mood untuk jadi tontonan malam ini.

Liam duduk  mendekatkan mic ke wajahnya, dan mulai memetik gitar. Ia bernyanyi dengan suara beratnya.

 

“Your hand fits in mine

Like it’s made just for me

But bear this in mind

It was meant to be

And I’m joining up the dots

With the freckles on your cheeks

And it all makes sense to me

 

I know you’ve never loved

The crinkles by your eyes when you smile

You’ve never loved

Your stomach or your thighs

The dimples in your back at the bottom of your spine

But I’ll love them endlessly

 

I won’t let these little things slip out of my mouth

But if I do,

It’s you,

Oh it’s you,

They add up to

I’m in love with you,

And all these little things

 

You can’t go to bed,

Without a cup of tea,

And maybe that’s the reason why you talk in your sleep

And all those conversations

Are the secrets that I keep

Though it makes no sense to me

 

I know you’ve never loved the sound of your voice on tape

You never want to know how much you weigh

You still have to squeeze into your jeans

But you’re perfect to me

 

I won’t let these little things slip out of my mouth

But if it’s true,

It’s you,

It’s you,

They add up to

I’m in love with you,

And all these little things

 

You’ll never love yourself

Half as much as I love you

You’ll never treat yourself right, darlin’

But I want you to,

If I let you know, I’m here for you,

Maybe you’ll love yourself,

Like I love you

Oh,

 

And I’ve just let these little things slip out of my mouth,

Cause it’s you,

Oh it’s you,

It’s you,

They add up to

And I’m in love with you,

And all these little things,

 

I won’t let these little things slip out of my mouth,

But if it’s true,

It’s you,

It’s you,

They add up to,

And I’m in love with you,

And all your little things. Hanaz” Dibagian akhir itu Liam bernyanyi dengan suara yang lirih.

 

Sang empunya nama cuma menunduk sibuk menutupi gurat merah merona di wajahnya. Antara terkejut, dan tak percaya. Ini hadiah paling indah dari sang pengagum rahasia. Sementara dua teman lainnya yang tidak tahu apa-apa seperti kesulitan bicara. Mereka kaget setengah mati. Mengintrogasi Hanaz melalui tatapan minta penjelasan. Sementara Restu cekikikan sendiri.

Liam sudah menunaikan kewajibannya untuk mengantarkan teman-temannya sampai rumah dengan selamat.Masih ada Hanaz di sampingnya. Kini ia tersenyum-senyum sendiri di balik stir. Mengingat berondongan pertanyaan dari teman-temannya yang terkena sindrome kepo. Tapi itu moment yang paling ia rindukan, moment yang sempat tenggelam akhir-akhir ini.

 

“Mau langsung pulang?” Liam memulai pembicaraan.

“Yo’i. Ngantuk bro.” Seloroh Hanaz seperti biasa.

“Oh. Ngantuk atau malu berdua doang sama gue?”

“Hah? serah deh!”

“Oke, oke. Ngomong-ngomong, kalau gue perhatian sama Amel, Ina atau Restu. Lo gak akan cemburu kan?”

“Cemburu? Buat apa? Kewajiban lo tuh! Lo cowok satu-satunya di unpredictable.”

Liam menghentikan laju mobilnya.

“Sebelumnya gue juga mau kasih surprise buat lo. Gue Kitty dari GettingCloser. Senangnya bisa kopi darat sama lo Mars.”

“Lo, Kitty? Kitty temen chat gue?”

“Betul.” Hanaz tersenyum penuh kemenangan. Satu sama.

“Gimana bisa. Gak mungkin. Lo kan gak punya akun GettingCloser.”

“Lo sendiri! Emangnya anak-anak tahu, lo punya akun itu juga. Dasar!” Hanaz meninju bahu Liam pelan.

“Gue jadi speechless.”

“Gue apa lagi.”

“Jadi sekarang kita jadian.”

“Lho gak nyambung”

“Ya gue sambungin. Pernyataan cinta udah, tinggal jawabannya.”

“Mmmmmm” Hanaz nampak berpikir sejenak. Lalu tersenyum penuh arti. Begitu pula Liam. Lalu mereka saling menggenggam tangan dengan erat.

Lihatlah aku Kesatria.

Aku bukan hantu yang mengambang tak punya nyawa.

Aku nyata menjajaki bumi.

Kaki ku bahkan pernah sampai ke tempatmu.

Aku ada dalam benakmu, terus berlarian.

Bahkan terus di samping telingamu, membisikkan.

Itulah sebabnya hatimu aku kuasai.

Wajahmu boleh menghadap kemanapun.

Di dalam hatimu, yang ada hanyalah aku.

사랑은 눈이 마치 (Sarangeun Nooni Machi).

Pagi itu mendung menggelayuti langit Kyoto. Kilatan halilintar saling kejar-kejaran. Hujan mulai turun rintik-rintik, membuat musim gugur terasa lebih dingin. Tidak ada kegiatan yang lebih sempurna, selain bersembunyi di balik selimut. Atau berdiam diri di rumah sambil menikmati minuman hangat di dekat perapian. Namun di sebuah jalan kecil di Fushimi-ku  deretan payung-payung bergerak maju menuju sebuah gedung besar berlantai tiga.  Toyotomi Hideyoshi High School.

Diantara deretan payung itu, seorang gadis berperawakan mungil berlari kecil. Ditengah jutaan tetes air yang memburunya, Ia hanya melindungi kepalanya dengan ransel. Sesekali Ia  berhenti untuk meraup udara sebanyak-banyaknya lalu kembali berlari.

“goedemorgen.” Langkah kecil itu terhenti ketika seorang murid laki-laki bertubuh tinggi tiba-tiba menghalangi jalannya. Ada sesuatu yang ganjil yang di tangkap kedua telinganya. Menyapa selamat pagi dengan bahasa Belanda di Jepang.

Hanaz Levia Devega, gadis berambut sebahu itu mendongakkan kepalanya spontan.  “Ohayōgozaimasu.” Dengan nafas tersengal Ia membalas ucapan selamat pagi tadi. Bibirnya menarik senyuman lebar tetkala mendapati Taura Wibisono, sahabatnya lah yang menyapa barusan.

“Kok tidak pakai payung?”

“Tadi langit sangat cerah. Aku pikir hari ini tidak akan hujan.”

Taura menggandeng Hanaz untuk sama-sama bernaung di payungnya. Sebetulnya mereka belajar di kelas berbeda. Bahkan hampir tiga tahun mereka sekolah, sampai saat ini tidak pernah satu kelas. Hanaz berada di jurusan sastra. Sementara Taura, Ia di kelas Science. Identitas lah yang menyatukan mereka. Di sekolah sebesar Toyotomi Hideyoshi, hanya mereka berdua yang berasal dari Indonesia.

“Seperti biasa, nanti malam aku main ke rumahmu ya?”

“Biasanya tidak pernah izin dulu. Selalu datang tanpa undangan. Nanti malam aku tidak bisa aku mau istirahat.”

“Hei ayolah!” Taura merengek sambil menyenggol lengan Hanaz “Aku kangen dengan lasagna buatan Ibumu. lagipula aku kesana untuk main Uno dengan Ayahmu. Kalau mau istirahat ya sudah sana. Aku tak akan mengganggu.”

“Dasar. Bukankah baru minggu kemarin main Uno sama Papa. Begitu pula makan lasagna buatan Mama.”

“Hey..” Taura memasang wajah melasnya.

“Terserah!” Jawab Hanaz tak peduli.

Kadang Hanaz pun bingung sendiri. Mungkin Taura memang lebih senang bermain Uno bersama Papanya yang orang belanda betulan itu. Meski sering terjadi miss komunikasi. Atau masakan Mamanya memang betulan enak. Hingga tiap malam minggu ia datang cuma untuk sepotong lasagna.

Tiba di dalam gedung, mereka berdua berpisah di depan Kōdō supēsu (ruang auditorium) Hanaz belok ke kiri lalu menaiki tangga, menuju kelasnya. Sebelumnya Ia sempat melambaikan tangan ke arah Taura. Sementara Taura berjalan lurus lalu masuk ke sebuah ruangan dengan tulisan “Albert Einstein”, di sebelah kiri Toshokan (Perpustakaan). Di depan pintu kelas, seorang siswi berambut panjang, bermata bulat menyambutnya dengan senyuman hangat, Sakamoto Hitomi. Kekasihnya.

***

Hujan telah berganti dengan pendar matahari yang sendu. Hanabatake (taman bunga) di belakang ruang musik adalah satu-satunya area hijau di lingkungan sekolah ini. Kendati suasananya sekarang berubah karena tidak ada ada bunga warna-warni yang nyaris tersisa saat musim gugur, pohon ginkgo dan pohon maple yang ditanam rapi sepanjang jalan menuju kuil, mampu menggantikan warna-warni itu saat musim gugur.  Daunnya sudah mulai berubah warna jadi kuning keemasan, memerah, bahkan ada beberapa pohon yang daunnya sudah berubah jadi cokelat tua dan berguguran. Dibawah pohon-pohon itu berderet bangku dari kayu. Ini adalah tempat yang nyaman untuk menyantap bento (bekal makan siang), membaca, atau sekedar duduk-duduk sambil mengobrol.

Di salah satu bangku kayu yang tak jauh dari torii, Hanaz duduk manis menyantap bento. Inari sushi adalah makan siang favoritnya.

“Kamu makan dengan lahap. Apa itu enak?”

“‘Hmm.. ” Hanaz kesulitan menjawab itu karena mulutnya penuh dengan makanan.”

“Hati-hati. Nanti tersedak”

“Hmm.. Kau mau? Ini enak sekali. Ibuku yang membuatnya.”

“Tidak terima kasih. Hey, team kami baru selesai berlatih.”

“Benarkah? Maaf aku tak bisa menemanimu berlatih. Aku ke perpustakaan tadi ”

“Jitsuni o kinodoku (sayang sekali).”

“Meskipun aku tidak ada, hampir semua anak-anak perempuan di sekolah ini datang melihat kan?” Hanaz menggodanya. Semburat merah langsung menghiasi wajah anak laki-laki itu. Tatapannya yang teduh, garis wajahnya yang tegas, air mukanya yang terlihat tenang, membuatnya terlihat tampan meski sedang kelelahan.

Semburat merona itu, tak lekas kandas dari wajah Yoshio Kei. Bukan karena kata-kata Hanaz tadi. Ia tersenyum dengan alasan yang berbeda kali ini. Mata kucingnya yang sedang mengamati teman perempuan yang dekat hampir dua tahun ini.

Aku ingin kita lebih dari sekedar teman. Hatinya berbisik. Ya, hanya hatinya yang berbisik. Kei tak butuh anak-anak perempuan yang selalu mengelu-elukan namanya ketika berlatih. Ia tak butuh kiriman surat cinta, kue, atau permen yang selalu membajiri lokernya tiap pagi. Kei tak peduli pada perhatian yang Ia dapat secara konsisten selama tiga tahun ini. Kei hanya butuh dia. Dia yang bersedia jadi temannya tanpa punya alasan khusus. Dia yang tak pernah sekali pun mengelukan namanya. Dia Hasil karya Tuhan Maha Kuasa yang kini teronggok di hadapannya. Namun ia takut. Aku takut jika Kamu menolakku, hingga akhirnya Kita  akan bertingkah layaknya dua idiot yang pura-pura tak saling mengenal. Biarlah tetap begini. Asal aku masih bisa bersamamu. Itulah sekilas jawaban mengenai ketakutannya.

***

Penjual takoyaki gerobak dekat Fushimi Inari JR Station, kewalahan melayani pembeli saat  jam pulang sekolah. Ketika dingin mulai melanda, menggenggam bungkus makanan hangat lalu memakannya sepanjang jalan sudah jadi kebiasaan bagi anak-anak jepang. Itulah mengapa beberapa pusat jajanan di kawasan itu dipenuhi dengan pembeli yang berseragam sekolah. Diantara kesibukan itu,