Category: Take Me Home


Gadis Selasa

Aku selalu melihatmu diujung sana. Disudut stadion dengan wajah pucat dan tubuh yang rapuh. Entah dengan alasan apa, namun sungguh aneh ketika melihat seorang gadis begitu terobsesi melihat pertandingan rugby, kendati hanya sekedar latihan.

Aku melambai sesekali, pada gadisku yang tengah berlatih cheers di bibir lapangan sana. Namun hanya sekilas. Karena aku diam-diam kecanduan, mencuri-curi pandang kearahmu.

Tiap selasa, aku berusaha datang kemari. Bukan untuk gadisku. Untukmu. Gadis yang selalu berbaju biru, dengan air muka tenang.  Aku menyingkirkan seluruh jadwalku buatmu. Seluruh waktuku, buatmu.

Hampir saja aku berlari dari tempat dudukku saat kau memegang dadamu dan meringis kesakitan. Kau berlutut, dengan wajah menentang fakta bahwa kau merasakan sakit yang amat sangat. Namun dengan tangguhnya engkau bangkit kembali, meninggalkan aku yang masih terperangah. Melangkah. Sejumput bayanganmu pergi entah kemana.

Sudah dua hari selasa ini aku tak melihatmu disana. Rasanya hadirku disini jadi sia-sia. Padahal harusnya aku melebur dalam acara makan malam di kediaman relasi Ayahku. Memulai debut putera pengusaha ditengah pergaulan sosialita. Namun aku tak pedulikan itu.

Aku  berceloteh, aku disini adalah untuk menemani gadisku. Tapi aku tak yakin bahwa itu sungguhan. Aku bahkan tak lagi ingat rupa gadisku. Kapasitas memoriku hanya cukup untuk menampungmu.

Lamat laun, entah sudah berapa selasa yang aku lewati. Namun dengan setianya aku tetap ada disini. Duduk termangu. Bukan itu sesungguhnya pemandangan yang sedang ku lihat. Bukan pertandingan itu, bukan juga gadisku. Rasa serba tak jelas padamu ini, merenggut segalanya. Apa yang dihadapkan padaku rasanya seperti gurun pasir yang menyengat, dan kau adalah fatamorgana-ku tentang oasis.

Hingga pada….

“Maaf.” Katamu pelan. Keberadaanmu yang tiba-tiba mengejutkanku. Aku melihatmu menumpahkan se-cup minuman pada baju seseorang. Kau betulan ada disini. Kau nyata, bukan lagi fatamorgana. Kita bertemu lagi, ujarku bergemuruh dalam hati.

Orang itu nampak mengumpat-umpat sambil berusaha membersihkan bajunya. Kau hanya sibuk membungkuk sambil minta maaf.

Aku berusaha mendekat membantumu. Tak tega, kala beradu sorot mata denganmu. Sorot mata yang seperti medan magnet. Dan aku berharap kita punya kutub magnet yang berlainan agar saling tarik menarik.

“Hey, kamu disini juga.” Perempuan yang bajunya kena tumpahan minuman berseloroh ke arahku. Dia menatapku dengan sorot mata hangat. Lengannya berusaha memelukku, namun aku menghindar. “I am your girlfriend. What’s the matter?”

Benarkah? Aku bahkan tak ingat bahwa gadis yang bersisian denganku adalah gadisku.

Kau lalu pergi meninggalkan kami. Padahal sebelumnya, aku ingin melonjak dulu penuh kegirangan berhasil menemukanmu dari sekian banyak orang yang berseliweran di Greenwich. Tapi gadisku menyeretku, entah kemana aku tak tahu. Padahal segalaku hanya bermuara padamu.

Sudah banyak hari lewat, namun kau tak juga ku temui. Kali ini betulan gamang, namun tak putus asa untuk menyerah. Kamu yang merenggut hidupku dalam satu sorotan mata. Kau yang harus bertanggung jawab atas segala bentuk kelinglunganku hari ini.

Aku merasa debar jantungku tak keruan. Seperti genderang yang ditabuh namun tak tentu ritmenya. Berusaha aku mencari sebabnya dan ternyata… Siluet biru langit itu disana. Berjalan diantara koridor kelas. Meski begitu ramai, masih dapat kulihat. Karena kau bersinar bagai bintang. Apa gerangan yang membawamu kemari hai gadis selasa? Sekedar terdamparkah? Namun sudi kah kau tinggal untuk beberapa waktu? Tinggal untuk beberapa kali pandangan mata.

Aku yakin kau tak menyadari, bahwa aku ada disini. Memperhatikanmu. Harapanku yang merenggutmu kemari, asal kau tahu.

Sudah berhari-hari dan segalanya nampak normal sampai adegan itu terulang kembali. Kau memegang dadamu dengan wajah panik dan kesakitan. Bibirmu yang biasanya pucat jadi agak biru. Kau jatuh berlutut. Tapi hiruk pikuk itu tak mempedulikanmu. Mungkin perut mereka terlalu lapar, sampai tak dapat membantumu dulu sebelum melahap  menu kantin.

Jadi aku berlari, menggendongmu, mencoba menyelamatkanmu.

***

“Sebelumnya ia tak pernah aku ijinkan keluar. Jadinya malah curi-curi untuk pergi dan daftar di sekolah formal.” Kata Ayahmu. “Jantungnya tak cocok dengan dunia luar.”

Selama ini, tiap aku bertemu kau, itu adalah waktu yang kau curi dari penjara bernama kungkungan? Sebegitu ingin tahunya kah dirimu akan dunia luar. Aku usulkan kau perkuat dulu jantungmu, karena begitu banyak kejutan di luar sana.

Jikalau kau siap, aku lah yang pertama memboyongmu dari kastil ini. Untuk menjajaki ribuan permainan bernama dunia. Namun perkuat dulu denyutmu, perbaiki dulu jantungmu. Bumi terlalu luas untuk ditapaki. Jangan sampai kelelahan membuatmu sekarat. Dan beristirahat selamanya.

Advertisements

Live While We’re Young

Jika aku adalah sutradara saat ini maka akan berkata ‘cut!’ melihat seorang gadis menyiram laki-laki itu dengan segelas jus yang ada dihadapannya. Kemarahannya begitu all out. Tumpahan jusnya merata menganai rambut, wajah, dan sebagian kausnya. Aku yakin laki-laki yang sebaya denganku itu tak akan punya muka untuk macam-macam. Ia tak akan berani tampil. Sementara perempuan dengan t-shirt merah ketat yang aku yakini sebagai selingkuhannya hanya bisa memandang dengan tatapan ngeri.

Kini gadis itu berbalik, sibuk melap matanya yang tak mau berhenti mengeluarkan air mata. Ia berlari meninggalkan kantin tapi. Hey, astaga! Dia jatuh. Dia jatuh menabrak Harry. Ya Harry. Mereka bertabrakan. Buku-buku yang ditenteng gadis itu berjatuhan, bercampur dengan buku Harry.

Harusnya habis ini mereka berkenalan, bertukar nomor handphone dan janjian di Hyde Park. Lalu gadis itu melupakan kekasihnya barusan. Tapi sepertinya Harry tak bisa menggunakan kesempatan dengan baik. Karena sang gadis sudah meninggalkannya pergi duluan, sementara dia masih memunguti buku.

“Hey Niall.” Sapanya. Bergabung di mejaku

“Kau kurang tangkas bung.” Gurauku diselingi tawa.

“Kau bercanda? Dia bahkan menangis tadi.”

“Dia bertengkar hebat dengan anak itu. Sepertinya dia kakak kelas kita.” Aku menunjuk seorang anak laki-laki berbadan besar. Yang sedang membersihkan bajunya dengan tissue.

Harry membereskan bukunya. “Apa ini?” katanya sambil mengangkat buku berwarna biru muda.

Aku terkekeh pelan. Bukunya bagus sekali. banyak tempelan kerlap-kerlip membentuk hati atau pun bintang. Lama-lama jadi geli membayangkan buku itu betulan miliknya.

“Apa mungkin punya anak perempuan tadi?” Lanjutnya

“Coba buka. Lihat isinya apa.”

Harry mulai membukanya. Lembar demi lembar. Aku yang ikut membacanya: tidak mengerti. Bahasa apa itu? Hanya paham dengan beberapa foto. Foto anak perempuan tadi. Sepertinya dia orang asia. Matanya kecil, rambut hitam dan kulitnya putih bersih.

“Ada namanya.” Harry berseru girang.

“Liana Calder.” Aku membaca tulisan dilembar paling bawah. “Colaistc Mhuirc Mullingar, jurusan seni rupa.”

Aku langsung meminta buku itu pada Harry, “biar aku saja yang kembalikan karena kami satu gedung. Sama-sama jurusan seni.  Bisa jadi kami mengambil kelas yang sama. Aku akan memberikannya pada kesempatan itu.”

“Mau cari kesempatan?” Tanya Harry sambil menyerahkan buku itu.

“I’d rather go to sleep than find a girl. Aku cuma ksihan pada pemilik bukunya. Ini pasti penting.” Jawabku tegas.

***

Hari ketiga buku ini ku pegang tapi belum juga aku bertemu dengan gadis itu. Apa dia frustasi, lalu mengurung diri setelah bertengkar dengan pacarnya. Ah, masa iya.

Sudah hampir tiga puluh menit aku mengitari sekolah, namun tak urung bertemu. Rasanya lebih baik istirahat dulu. Duduk di bawah pohon ek, sambil mendengarkan lagu Coldplay. Namun sekilas mataku bertemu dengan siluet itu. Rambut yang panjang bergelombang dan perawakan yang semampai. Memakai celana jins pendek dan kaus putih. Itu dia.

“Hey.” Aku berlari menghampirinya. Gadis itu menoleh. Ia nampak menyelipkan helaian rambut dibalik telinganya. “Ini.” Sambil terbata aku menyerahkan buku itu kepadanya.  Ia menyambutnya dengan wajah terkejut.

“Ku pikir ini hilang.” Katanya “Terima kasih banyak.”

Aku hanya menggaruk tengkuk. Tak lama gadis itu mengulurkan tangannya. “Liana Calder” Katanya ramah.

“Niall Horan.” Aku menyambut uluran tangannya.

Tapi tiba-tiba.

“Hey babe..” Si badan besar yang kemarin itu datang. Apa kurang puas dia disiram jus?

Namun Liana tak menghiraukannya. Ia cuma diam lalu kembali konsentrasi dengan lukisannya.

“Hey, jangan pura-pura tak mendengarku.” katanya sambil menarik tangan Liana kasar.

Aku menghempaskan tangan itu “Liana tidak mau.” Entah dapat kekuatan dari mana aku bicara dan bertindak begitu.

“Jangan macam-macam” Balasnya padaku.

Aku angkat bahu dan memilih pergi tanpa mau tahu urusan mereka selanjutnya.

***

 

Moments

418i82xh2mL._SY300_

Shut the door

Turn the light off 

I wanna be with you

I wanna feel your love

I wanna lay beside you

I cannot hide this

Even though i try

Heart beats harder

Time escapes me

Trembling hand touch skin

It makes this harder

And the tears stream down my face

***

Sofia terbaring lemah di kamar ICU. Karena kecelakaan lalu lintas. Dan semua ini aku yang salah. Kami bertiga bertengkar hebat sebelumnya. Aku, Papa dan dia. Aku yang memicunya.

“Dean!” Suara itu terdengar parau memanggilku. Sofia berusaha bangkit dari tempat tidurnya.

“Ada apa?” Tanyaku pelan. Aku mendekat.

“Haus.” Katanya sambil memegang tenggorokan.

Aku meraih tumbler berwarna biru tua di meja dekat tempat tidurnya. lalu memastikan Sofia menghisap pipetnya dengan benar. Sambil aku memegangi selang oksigen yang membantu pernafasannya supaya tidak jatuh.

Lihatlah gadis cantik itu kini berubah. Keningnya dililit perban yang kemerahan karena rembesan darah. Iris matanya tak bersinar-sinar lagi. Lingakaran hitam disekitar matanya makin menghitam seiring tonjolan tulang pipinya yang kian hari kian nampak.

“Sudah.”  Ia kembali berbaring.

“Tidur lagi. Ini sudah malam.” Aku meraih tangannya. Meyakinkan dia bahwa kali ini dia aman. Dia tak perlu lagi khawatir karena aku tak akan pergi. Aku akan menjaganya.

“Aku ingat….” Katanya terbata.”Tangan ini pernah melempar kepalaku dengan buku.”

Aku tersentak kaget. Ternyata Sofia masih mengingatnya. Aku sendiri tak akan ingat, kalau Sofia tak bilang barusan. Tiba-tiba mataku memburam dan tetesan itu jatuh tanpa penghalang. Sofia mengusapnya pelan.

“Maaf…” Aku benar-benar kehabisan kata. Rasa-rasanya semua kata yang ada dalam benakku lari terbirit-birit.

Malam itu, aku sedang menamatkan membaca buku J.R.R Tolkien yang tinggal beberapa halaman lagi, lalu Sofia mendekat dan menyerahkan buku sketsanya.

“Lihat, kau tampan sekali saat sedang membaca. Sepertinya sketsa ku yang lebih tampan.”

“Hmm.. akan ku lihat nanti.”

“Lihat lah sekarang, ini sulit sekali membuatnya. Apalagi model rambutmu itu, aku sangat sulit menggambarnya.”

“Bisa kah kau diam? Aku sedang konsentrasi membaca.”

“Kau tak boleh seperti itu pada adikmu.” Wajah Sofia yang tadinya bersemangat perlahan merunduk sedih.

“Kau selalu merengek. Usiamu itu enam belas tahun. Pantaskah? Lagi pula kau bukan adikku!”

Mendadak ia mendongak menatapku dengan sorot matanya yang tajam. Ya, dia memang bukan adikku. Karena Papa menikah dengan Ibunya bukan berarti secara tiba-tiba kami menjadi kakak beradik bukan?

“Sepuluh tahun kita tumbuh bersama. Bukan pertama kali kau bilang aku bukan adikmu. Kenapa kau tak pernah menyayangiku padahal aku sangat menyayangimu. Aku mencintaimu meski kau bukan kakak ku. Aku bertahan tinggal disini meski mama sudah meninggal, meski secara pertalian darah kalian bukan siap-siapaku. Karena aku mencintai kalian, kau dan Papamu.” Sofia berhenti meneriakiku. Buku yang sedang ke pegang kini mengenai kepalanya. Ya, aku melemparnya.

Haruskah aku balik meneriakinya bahwa kedua orangtuaku bercerai adalah gara-gara Ibunya. Haruskah aku kembali meneriakinya bahwa disini akulah yang paling menderita mengahadapi perpisahan orang tuaku. Lalu di tengah sakit hati yang teramat dalam itu, aku harus menyaksikan papa dan Ibunya menikah.

Aku meninggalkan Sofia yang masih mengusap kepalanya yang mungkin terasa sakit. Aku membanting pintu kamar lalu melompat ke tempat tidur dan rasanya terlalu sakit. bahkan airmata tak henti-hentinya keluar dari pelupuk mataku.

Dan ucapan maaf itu, aku baru mampu mengatakannya sekarang saat Sofia sudah tak berdaya. Anak laki-laki pengecut.

“Aku sudah memaafkanmu, Dean.” Ia membalas menggenggam tanganku. “Where’s Papa?”

“Papa pulang sebentar mengambil pakaian ganti mu.”

“Dean, aku ingin pergi jalan-jalan. Rasanya pengap terus berada disini.”

“Jalan-jalan kemana? Diluar sangat dingin. London sudah memasuki akhir musim gugur.”

“Tak apa. Aku bisa memakai mantel dan syal.”

“Jika Papa dan dokter mengiinkan.” Aku mengusap keningnya pelan. “Kau mau jalan-jalan kemana?”

“Westminster Abbey.”

“Ke gereja? Besok bahkan bukan hari minggu.”

“Tapi aku mau kesana. Aku ingin melihatnya, Dean. Sebelum aku menutup mata untuk selamanya.”

Aku kembali tersentak. Dari mana Sofia punya kekuatan untuk mengatakan itu? Aku makin menyesal. Menyesal atas pertengkaran yang membuat Sofia lari dari rumah lalu mengalami kecelakaan. Dan membuatnya seperti ini. Saat ini.

“Papa aku ingin sabtu besok kalian datang ke pameran seni di balai kota. Aku dan teman-teman membuat lukisan tiga dimensi. Dinding Gallery kami sulap jadi seperti peradaban atlantis. Dan terlihat sungguhan. Kalian harus melihatnya. Memang bukan karya kami yang di pamerkan. Kami hanya dapat tugas melukis dinding.”

Papa menyunggingkan senyumnya. Sementara aku hanya serius dengan Sarapanku.

“Wow, Papa belum pernah lihat yang seperti itu. Pastinya sangat keren. Kami pasti datang.” Jawab Papa tanpa bertanya persetujuan dulu denganku.

“Aku tidak bisa.” Sambil tak melepaskan pandangan dari menyantap makanan dihadapanku.

“Kenapa?” Tanya Sofia.

“Aku ada pertandingan rugby. Dan ini juga sangat penting buatku.”

“Dean, bisakah kau mengalah buat adikmu?”

“Mengalah bagaimana Pa? Kalau aku datang ke pameran lukisannya sama saja aku tak ikut bertanding. Aku kurang mengalah apa untuknya? kalau aku tak mengalah, dia tak akan tinggal bersama kita.”

“Dean!” Papa membentakku.

“Maaf.” Ujar Sofia

“Ya, aku lagi yang bersalah. Aku ini anak Papa. Kenapa papa lebih menyayangi dia yang bukan siapa-siapa. Dia bukan anggota keluarga kita. Papa bahkan lebih memilih datang ke pamerannya dari pada menyaksikan aku bertanding.” Sebuah tamparan keras menghentikanku. Papa berdiri dengan nafas yang memburu. Ia seperti hilang keseimbangan lalu kembali duduk dikursinya.

“Kenapa bicaramu kasar sekali. Aku tak mendidikmu jadi anak yang begitu. Kau menuruni sifat Mamamu! Keras kepala.” Marah papa dengan nafas yang terengah.

“Kenapa Papa menyalahkan Mama. Mama dan aku adalah orang paling menderita dari semua ini. Waktu Papa memilih untuk bercerai dan menikahi Ibunya, memangnya siapa yang salah. Apa kalian bercerai karena Mama yang salah? Papa pikir saat kalian bertiga bahagia, aku ikut bahagia? Sakit Pa. Aku tidak sanggup.”

“Dean!” Papa kembali mendekat meraih kerah bajuku. Rasanya kemarahan memberengus setiap tindakannya. Ia menamparku. Lalu melepaskan genggamannya dan aku tersungkur.

Lirih aku mendengar Sofia menangis terisak. “Ini semua salahku dan Mama. Gara-gara kami kalian tak bahagia. Maaf” Ia lalu meraih ranselnya dan berlalari keluar rumah.

Ternyata tadi pagi ia tak pergi ke sekolah. Papa tak mengejarnya karena Papa berpikir ia hanya lari ke sekolah. Hanya itu satu-satunya tempat tujuannya, kami pikir. Ini hampir pukul delapan malam. Bahkan Sofia belum pulang. Sama sekali tak ada kabar. Jujur aku mulai cemas.  Apalagi diluar sangat dingin. Apa kah dia sudah makan?

Tak lama berselang telepon berbunyi. Aku dan Papa seperti berlomba berlari untuk mengangkatnya. Aku yang berhasil mengangkatnya duluan.

“Excuse me.” Sapa suara diseberang sana “benarkah ini kediaman keluarga Roosevelt?”

“Ya, aku Dean William Roosevelt.”

“Aku suster di Forth Valley Hospital. Kau mengenal Sofia William Roosevelt?” Tanya perempuan itu lagi.

“Ya. Dia keluarga kami.”

“Segeralah datang kemari. Kondisinya parah. Tadi siang ia mengalamai kecelakaan. Sekarang masih berada di ICU.”

Tanganku rasanya kehilangan tenaga. Telepon itu jatuh.

“What’s going on?” Ayah mengguncang bahuku.

“Sofia kecelakaan.” Rasanya berat sekali mengatakan dua kata barusan.

Pada akhirnya, semuanya jadi begini. Seperti hari ini. Sofia tak ikut pameran seni itu. Begitu pula aku. Aku tak ikut pertandingan rugby. Saat ini bagiku Sofia lebih penting diatas segala-galanya. Dia adikku. Dia memang adikku, meski berasal dari orang tua yang berbeda, Tuhan yang menakdirkan kami untuk bersama.

“Dean, bolehkah aku pergi ke Westminster Abbey besok?”

“Kita lihat besok. Sekarang tidurlah!”

Aku mengenggem tangannya, megusap kepalanya. Menyesal sekali. Mengapa tak dari dulu aku menyayanginya. Sofia adik yang manis. Ia bahkan tak marah padaku, meski hampir kehilangan nyawa.

****

Setelah membayar tiket masuk, aku mendorong kursi roda dan masuk. Dari sini gereja kelihatan indah sekali. Rumput sekelilingnya hijau, dan pohon maple mulai berguguran. Pemandangan yang sangat indah, Gereja ini sekaran jadi tempat wisata, kadang ada pemberkatan pernikahan disini. Hanya kalangan tertentu saja.

Sementara Sofia duduk tenang di kursi roda. Sesekali ia tersenyum dan jarinya menunjuk sekawanan burung gereja yang beterbangan. Hari ini, dengan kondisi fisiknya ia bahkan masih terlihat cantik memakai mantel yang berwarna sama denganku, cokelat tua. Tanpa lilitan perban di kepalanya. Ya, tadi pagi ia minta supaya suster membukanya dan mengganti dengan perban yang lebih kecil yang cukup menutup lukanya.

Kami lalu masuk ke dalam gereja. Belum jauh dari pintu masuk Sofia menyuruhku berhenti.

“Dean bisa kah kau berlutut disampingku?”

“Ada yang kau butuhkan?”

“Aku ingin menikah hari ini.”

“Apa kau bilang?”  Aku terhenyak.

“Jadi pengantin adalah impian semua perempuan, siapa pun dia. Bisa kau membantuku mewujudkan impian itu?”

“Dengan siapa? Kau akan menikah dengan siapa?”

“Tentu saja denganmu. Aku tidak mengenal laki-laki secara dekat selain denganmu. Kita tinggal bersama selama sepuluh tahun ini.”

“Kau gila? Aku ini kakakmu.”

“Bukan. Kau bukan kakakku.”

“Sofia.”

“Please setelah ini aku berjanji, aku tak akan minta apa-apa lagi. Ini yang terakhir.”

Aku tak bisa menjawab lagi-lagi. Aku hanya berlutut, dengan kepala yang menunduk lemas. Ada jeda panjang hingga Sofia kembali bersuara.

“Sofia William Roosevelt, bersediakah engkau mengasihi, mencintai, mendampingi Dean Wlliam Roosevelt. Baik dalam keadaan sehat maupun sakit, susah ataupun senang, sampai maut yang memisahkan. Ya saya bersedia. Dean William Roosevelt, bersediakah engkau mengasihi, mencintai, mendampingi Sofia William Roosevelt. Baik dalam keadaan sehat maupun sakit, susah atau pun senang sampai maut yang memisahkan?”Sofia menatap mataku menunggu jawaban. Sementara aku masih ragu untuk berkata-kata. Sejenak keheningan membungkus kami. Tak ada yang dapat ku lakuakan selain kembali menatap matanya. Genggaman tanganku melonggar, namun sofia kembali menggenggam balik dengan erat. Aku menelan ludah, merasakan betapa sulitnya unuk bicara.

“Ya. Aku bersedia” Jawabku susah payah. Akhirnya.

Sofia tersenyum ia membekap mulutnya lalu memelukku. “Dengan begitu, kau berjanji kan, selamanya akan menjagaku. Tak akan kasar lagi padaku?”

“Aku membalas memeluknya erat. Aku janji.”

Sambil berjalan mendorong kursi roda, sesekali aku tersenyum. Sementara Sofia tidur di kursi rodanya. Ia benar-benar mengagumkan. Ada haru yang membersit luar biasa dalam hati. Ia seorang yang sabar dan pemaaf. Ia tetap menyayangi aku yang meski bukan siapa-siapa. Malah aku yang selalu menyakiti. Tak ada kemarahan sedikitpun padaku. Kau gadis baik hati yang tak layak diperlakukan begitu.

Sampai di depan mobil aku mencoba membangunkan Sofia. Kami harus segera pulang, sebentar lagi malam. Aku memanggil namanya pelan, mencoba membangunkan. Ia tak mau bangun. Aku menepuk pipinya. Dingin.

“Sofia.”

Tak ada jawaban.

“Sofia” Aku kembali menepuk pipinya.

“Sofia.” Ia tetap diam tak menjawab.

****
Tubuhnya terbujur kaku dalam peti. Memakai gaun putih. Wajahnya tersenyum. Ia sangat cantik. Ini hari terakhir kami bersama-sama. Aku menggenggam tangannya erat lalu mencium keningnya. Berusaha kuat untuk tak menjatuhkan airmata. Tapi tak bisa.
Dengan pandangan buram aku berlari lalu membanting pintu kamar. Ini terlalu menyakitkan. Tuhan tak memberikanku kesempatan untuk menjaganya. Dalam diam, aku berusaha menghentikan airmata yang mengalir tanpa henti.
If we could only have this life for one more day
If we could only turn back time
Before you leave me today