Latest Entries »

MATILDA

Matilda

Judul Buku: Matilda

Penulis: Roald Dahl

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 261 Halaman

ISBN-13: 9789795111672

Bahasa: Indonesia

Matilda Wormwood, seorang gadis kecil yang jenius.  Ia sudah bisa membaca di usianya yang baru empat tahun, membaca buku Charles Dickens, dan pergi ke perpustakaan kota sendirian. Hal ini bertolak belakang dengan kondisi keluarganya. Ayah matilda Mr. Wormwood memiliki usaha jual-beli mobil bekas yang pandai mengelabui pembelinya. Caranya dengan menambahkan serbuk gergaji ke dalam mesin mobil bekas sehingga nyala mesinnya terdengar seperti masih bagus. Sementara ibunya tiap hari pergi bermain Bingo. Sedangkan kakak laki-lakinya hanyalah bocah biasa.

Matilda memiliki hobi yang sangat dibenci kedua orangtuanya: MEMBACA BUKU. Karena menurut mereka membaca adalah sesuatu yang menjengkelkan. Sementara sebaliknya, mereka lebih suka menonton televisi, bahkan mereka menyantap makan malam di ruang televisi sambil menonton acara TV favorit mereka. Dan inilah yang sangat menyiksanya. Matilda sangat bertolak belakang dengan keluarganya.

Hingga pada suatu hari Matilda dimasukkan ke sekolah dasar. Ini lah yang membuatnya sangat senang. Bertemu dengan Miss Jennifer Honey, seorang guru yang lemah lembut, baik hati dan sangat menyayangi anak-anak, membuat Matilda dekat dengannya. Disekolah itu ia bertemu dengan seorang teman bernama Lavender. Kedua anak ini sama-sama tidak menyukai Miss Trunchbull, seorang kepala sekolah yang galak, berbadan gemuk, dan selalu memakai coat hijau. Miss Trunchbull adalah pembenci anak-anak, yang paling dibencinya adalah Amanda Thrimpp. Seorang anak perempuan berkepang dua. Miss Trunchbull adalah kepala sekolah yang sangat bengis dan kejam.

Berurusan dengan kebengisan Miss Trunchbull  mengemukakan sebuah fakta bahwa Matilda memiliki kekuatan supra natural. yaitu bisa menggerakkan benda-benda menggunakan tatapan matanya.

Menurutku bimbingan orangtua berperan penting, ketika seorang anak membaca buku ini. Banyak penjelasan yang harus diberikan orang dewasa. Salah satunya ketika Matilda dipaksa oleh ayahnya makan malam sambil menonton televisi, ia marah. Karena baginya menonton televisi adalah hobi yang menjengkelkan. Ia memang duduk di depan televisi, tapi bukannya menonton. Kemarahannya mendorong kekuatan supra naturalnya untuk merusak televisi itu.

Dan ini Roald Dahl banget. Grandpa Dahl adalah seorang PEMBENCI TELEVISI. Dua buku karyanya secara tersirat mengungkapkan betapa ia sangat membenci televisi. Salah satunya buku ini.

Nah adik-adik, tertarik untuk baca buku ini?? Kakak sarankan deh, karena di dalamnya bukan hanya untaian kata berlembar-lembar. Ada beberapa ilustrasi keren yang dibuat oleh Quentin Blake. Dan, hobi membaca memang lebih baik dari pada menonton. Selamat membaca. Jangan lupa minta ditemani Ayah, Ibu, atau Kakak ya….

🙂

 
Advertisements

CHARLIE AND THE CHOCOLATE FACTORY

Image

Penerbit :    Gramedia Pustaka Utama
Edisi :    Soft Cover
ISBN :    979686889x
ISBN-13 :    9789796868896
Tgl Penerbitan :    2002-07-00
Bahasa :    Indonesia
Halaman :    200 halaman
Ukuran :    135x200x0 mm

 

Adalah seorang anak laki-laki bernama Charlie Buckets yang tinggal disebuah rumah yang terdiri dari enam orang tua yaitu orang tua Charlie, Mr. and Mrs. Buckets, Grandpa George dan Grandma Georgina, serta Grandpa Joe dan Grandma Josephine. Mereka adalah keluarga yang sangat sederhana, menu makan tiap malamnya pun hanyalah sup kubis. Mr. Buckets adalah seorang pekerja di pabrik pasta gigi, bagian memasangkan tutup pasta pada tubenya. Jadi sekeras apapun ia bekerja, sebanyak apapun ia memasang tutup pada tube pasta gigi, upahnya akan tetap sama. Apalagi teknologi mulai maju dan tenaga Mr. Bucket di pabrik itu tergantikan oleh mesin-mesin canggih.

Keluarga Buckets tinggal tak jauh dari sebuah pabrik cokelat milik Willy Wonka. Harum aroma cokelat yang sedang dimasak, inilah yang sangat menyiksa Charlie membuatnya ingin merasakan betapa nikmat cokelat. Namun, ia tidak memiliki uang untuk sekedar membeli sebatang cokelat. Bagi Charlie, cokelat adalah sebuah barang mewah. Mengapa? Karena ia hanya mendapatkannya sekali dalam setahun. Kedua orang tua Charlie biasanya memberikan cokelat favoritnya, WONKA’S WHIPPLE-SCRUMPTIOUS FUDGEMALLOW DELIGHT hanya pada hari ulang tahunnya. Ia akan mengunyahnya pelan-pelan, cukup satu kunyahan setiap hari. Charlie mengunyah perlahan hingga rasa coklat menyebar ke seluruh mulutnya, hingga sebatang cokelat itu habis dalam kurun waktu berminggu-minggu.

Wonka’s Chocolate Factory adalah penghasil produk cokelat terlezat di dunia. Namun pabrik ini sangatlah tertutup. Tidak ada satu orang pun yang nampak keluar masuk ke pabrik itu, dan tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang bekerja disana. Karena Mr. Wonka sendiri, tidak mempekerjakan manusia. Dulunya, pabrik ini memiliki banyak pegawai. Namun karena ada mata-mata penyusup yang mencuri resep cokelat Mr. Wonka hingga produk andalannya dimiliki pesaingnya, akhirnya  Mr. Wonka memecat seluruh pegawainya.

Namun pada suatu hari, sebuah berita gempar datang dari pemilik pabrik cokelat itu. Lima tiket emas di selipkan di tiap bungkus cokelat produk Wonka dan mereka yang beruntung mendapatkannya adalah yang berhak masuk untuk berwisata di dalam pabrik cokelat milik Mr. Wonka. Tentu saja orang-orang di seluruh dunia berbondong memburu cokelat Wonka, demi mendapatkan kunci masuk ke pabrik ajaib itu. Begitu pula Charlie, yang sebentar lagi memasuki hari ulang tahunnya dan berharap ada keajaiban disana. Mungkin saja, cokelat hadiah dari orang tuanya adalah yang berisi tiket emas. Dan, pada hari itu juga tiket emas pertama ditemukan oleh seorang anak laki-laki bernama Augustus Gloop. Seorang anak yang sangat suka makan. Ia mampu memakan puluhan batang cokelat sehari. Maka tak heran, jika Ia menemukan tiket emas itu.

Di lain hari, Veruca Salt, seorang anak yang orangtuanya kaya raya dan sangat dimanja merengek, meminta tiket emas itu pada ayahnya. Pengusaha pemilik pabrik kacang, yang tidak tahan mendengar rengekan anaknya yang menginginkan tiket emas Mr. Wonka itu, kemudian membeli bertruk-truk cokelat Mr. Wonka dan menyuruh para pekerjanya yang biasanya bekerja mengupas kacang, untuk membuka bungkus cokelat itu. Beberapa hari kemudian, didapatkanlah tiket emas itu di antara ribuan cokelat yang diborong oleh Mr. Salt. (sebenernya pegawai yang nemuin itu tiket gak mau ngaku, kalo dia nemu dan berniat untuk mengambilnya. tapi keburu ketahuan)

Dengan itu, tinggal tiga tiket yang tersisa untuk bisa mengunjungi pabrik coklat Mr. Wonka. Harapan selalu ada, meskipun itu kecil. Itulah yang dibisikkan oleh orang-orang di rumah kecil itu di hari ulang tahun Charlie. Charlie berharap, keberuntungan datang kepadanya di hari ulang tahunnya. Namun ternyata, ia belum beruntung. Coklat ulangtahunnya hanyalah sebatang coklat biasa. Kakek dan nenek Charlie membesarkan hatinya, bahwa meskipun ia tidak beruntung, ia masih memiliki sebatang coklat terenak di dunia.


Dua tiket emas mulai ditemukan lagi. Orang ketiga yang beruntung adalah seorang anak perempuan bernama Violet Beauregarde, yang sebenarnya tidak suka coklat! Violet adalah seorang maniak permen karet. Ia mengunyah permen karet kapanpun dan dimanapun. Bahkan ia senang menyimpn permen karet yang sudah dikunyahnya untuk kemudian dikunyah lagi. Ia juga senang menempelkan permen karet yang dikunyahnya dibalik telinga, untuk dikunyah lagi nanti.

Orang keempat adalah seorang anak lelaki bernama Mike Teavee yang sangat gemar menonton TV. Seharian hidupnya adalah di depan TV. Acara TV favoritnya adalah film action dengan mafia dan gangster yang saling tembak menembak tiada henti. Mike bahkan mengusir wartawan yang ingin mewawancarai dirinya karena ia mau menonton TV.

Charlie sudah pasrah ketika itu, karena tidak mungkin ada kesempatan baginya untuk bisa membeli cokelat Willy Wonka lagi. Hingga suatu hari, Grandpa Joe yang baik memberikan sekeping uang tabungannya yang sangat berharga kepada Charlie. Charlie bergegas membeli coklat dan membawanya pulang. Mereka menyobek bungkusan coklat dengan perlahan untuk melihat apakah tiket emas itu ada di sana. Sayangnya, kali  ini Charlie masih belum beruntung…

Musim dingin tiba, membuat keluarga itu kedinginan dan juga kelaparan. Ditambah lagi, Mr. Bucket ayah Charlie terkena PHK, sehingga mereka sekarang hanya bergantung pada uang tabungan Mr. Bucket yang jumlahnya tak seberapa. Jumlah makanan setiap harinya semakin sedikit, membuat mereka makin kelaparan setiap harinya. Apalagi bagi Charlie kecil yang dalam masa pertumbuhan. Ia membutuhkan banyak makanan yang bergizi, dan ia selalu lapar. Tapi, tidak ada yang bisa dilakukan Charlie. Ia adalah anak yang sangat baik hati. Charlie menolak menerima jatah sarapan ibunya yang diberikan kepadanya. Ia juga memutuskan untuk berangkat ke sekolah lebih awal dan bergerak lebih sedikit untuk menghemat tenaganya. Ia sangat lapar, tapi tidak pernah mengeluh.

Hingga suatu hari, ia menemukan sekeping uang logam 50 penny di jalan! Charlie memungutnya, setelah yakin bahwa tak ada seorang pun yang mencari uang itu. Ia bergegas pergi ke toko terdekat dan membeli sebatang cokelat WONKA’S WHIPPLE-SCRUMPTIOUS FUDGEMALLOW DELIGHT favoritnya. Ia berniat untuk memberikan kembalian uang itu kepada ibunya, agar mereka sekeluarga bisa makan hari itu. Setelah sebatang cokelat habis dilahapnya, karena ia memang sanggattt kelaparan, Charlie tak bisa menahan dirinya untuk membeli sebatang cokelat lagi. Uang kembalian yang ia terima masih cukup untuk diberikan kepada ibunya nanti. Ia pun membeli lagi sebatang cokelat favoritnya, ketika akhirnya keajaiban memutuskan untuk tersenyum kepadanya. Ya! Ia mendapat tiket emas terakhir!!!

Charlie bergegas pulang dan menceritakan semuanya kepada anggota keluarganya, yang disambut dengan sangat antusias oleh mereka. Disebutkan bahwa salah anggota keluarga diperbolehkan menemani anak mereka masuk ke dalam pabrik cokelat Mr. Wonka. Grandpa Joe, yang baik hati dan pandai bercerita, juga kakek yang paling dekat dengan Charlie, ingin menemani Charlie. Orangtua Charlie memutuskan bahwa Grandpa Joe adalah orang terbaik untuk menemani Charlie ke petualangannya di pabrik Mr. Wonka. Selain itu, karena Grandpa Joe adalah mantan pegawai di pabrik cokelat milik Mr. Wonka.

Pagi harinya, tanggal 1 Februari tepat pukul sepuluh, lima orang anak dan orang tua mereka masuk ke dalam pabrik Mr. Wonka yang sudah tertutup selama sepuluh tahun itu, dan memulai petualangan mereka di dunia ajaib yang diciptakan oleh si Jenius itu. Mulai dari sungai cokelat, rumput manis yang bisa dimakan, televisi yang berfungsi sebagai alat teleportasi, tupai-tupai cerdas pengupas almond, produk yang akan segera di luncurkan: permen karet dengan rasa abadi (rasanya ganti2 loh) Dan yang paling penting, akhirnya mereka tahu sebuah rahasia: Mr. Wonka mempekerjakan para Oompa Lompa, manusia kerdil dari Loompsland dengan jumlah yang sangat banyak.

Namun petualangan itu tak berjalan mulus, karena satu persatu peserta tak dapat menyelasaikan tournya oleh sebab perbuatan mereka sendiri. Saya salut, ternyata pabrik milik Wonka ini bisa mengungkapkan jati diri seseorang melalui tingkah lakunya selama tour di dalam pabrik itu.

Jujur, ini buku yang sangat keren dan layak dinikmati dari generasi ke generasi. Two thumbs up for the writer, Grandpa Roald Dahl. Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1964. Namun ketika saya membacanya tahun 2003 (kelas 1 SMP, 11 tahun) ini sangat bisa banget dinikmati sekali oleh saya. Seorang anak kecil dari abad 21.

Membayangkan bentuk, rupa, warna, rasa, aroma, leleran cokelat wonka yang dideskripsikan disana saya bener-bener enjoy, ngiler, dan mulai suka jajan cokelat. Tadinya saya adalah tipe anak yang tak begitu suka pada makanan manis (termasuk kue lebaran), namun karena produk-produk ajaibnya Mr. Wonka saya jadi berubah 180 derajat.

Novel ini juga pernah dibuat versi layar lebarnya (lupa tahun berapa). Dengan Johny Depp (pemeran Jack Sparrow, Pirates of  The Caribbean) yang memerankan karakter Willy Wonka. Jujur saya menikmati filmnya karena nyaris mirip dengan novelnya. Lembaran novel yang dihidupkan. Saya tidak merasa kecewa, seperti halnya ketika menonton novel best seller lainnya yang kadang kala berbeda alurnya ketika diangkat jadi film (maaf .___.V).

Novel ini memberi pembaca nilai plus, yaitu tentang kesederhanaan, saling mengasihi, dan betapa berharganya rasa saling memiliki antar sesama anggota keluarga.

Dan buat para penggemar cokelat, silahkan membaca buku ini (dianjurkan) dan mulai lah berfantasi ria dengan berbagai cokelat, permen, marshmallow yang ajaib yang belum pernah anda nikmati sebelumnya.

🙂

Mandek Ide

Awan hitam seperti menggelayut di otaknya. Menghalangi untuk berpikir jernih. Sudah tiga cangkir teh manis, tandas. Kertas berserakan dimana-mana. Tiap halaman yang selesai diketiknya, ia lempar begitu saja. “Sampah.” Gumamnya pelan.

Persetan yang dimaksud orang dengan ide, yang orang berandai-andai sebagai bohlam lima watt yang menyala benderang dalam kepala. Atau yang Dee bilang sebagai Hemonculus, manusia kecil di dalam kepala yang dihipotesiskan sebagai penentu dan determinator setiap tindakan, manusia kecil itu sedang tidur sejak tiga jam yang lalu. Otaknya benar-benar sedang berdemonstrasi.’Aini Dandelion’ tulisnya di halaman terakhir.

Laptop itu ia biarkan menyala. Tangannya bergerak mengikat rambut panjang yang sejak tadi tergerai. Ia pun menyerah dengan keadaan dan pergi tidur.

***

Langkah kecil itu berhenti di sebuah ruko kawasan perkantoran, tepat di bawah plang pintu ‘MuffinSheet’ perusahaan penerbitan tabloid remaja. Kebiasaan yang sudah berlangsung selama dua tahun. Tidak, ini bukan kebiasaan. Ini lah tuntutan.

Hawa sejuk menyeruak begitu ia masuk ke ruang kerjanya. Intuisinya menginstruksikan untuk segera menyalakan komputer dan melanjutkan naskah tadi malam. Ini baru pilihan. Ia sudah lelah jadi editor, mengkritik karya orang, edit sana-sini, kadang di sortir. Ia pun ingin merasakan nikmatnya membuat sebuah karya. Dan kini ia dalam tantangan bosnya ‘sebuah cerpen bersambung selama 30 edisi, atau tetap sebagai editor.’ lagi-lagi ia harus manut.

“Kopi?” Seorang pria dengan lesung pipi yang cukup dalam, menaruh cangkir bergambar kura-kura ninja di mejanya. Masih dengan asap mengepul.

“Thanks.” Balasnya singkat.

“Bikin karya apalagi tulisan memang kelihatannya mudah. Tulis segala sesuatu yang terbersit dalam kepalamu. Lalu jabarkan jadi kata-kata yang sampai berlembar-lembar banyaknya. Tapi kalau sudah ketemu sama setan mandek, gak ada yang bisa tahan.”

“Bener juga omongan kamu, Ras.”

“Saya pikir kamu udah mumpuni jadi editor, buat apa nyusah-nyusahin diri jadi penulis? Apalagi di target.”

“Saya bosan, memilah karya-karya picisan yang dikirim pembaca. Melulu soal mewek. Cinta menyedihkan, cinta bertepuk sebelah tangan. Tema lumrah. Dan tolong penuturannya jangan menyedihkan.”

Rasya meledakkan tawanya. “Ayolah. Pangsa pasar kita itu anak remaja.”

“Karena pembaca kita remaja, haruskah ceritanya selalu bertema galau dan berbunga-bunga. Kalau begitu, bagaimana kalau buku teks matematika di tiap SMA kita ganti dengan novel. Bukankah pangsa pasar Sekolah Menengah Atas juga anak-anak remaja?” Aini meneguk kopinya.

“Lalu karya seperti apa? Cerita bersambung tentang seorang penulis yang sedang kamu kerjakan itu. Yang seperti itu yang menurut kamu layak muat?” Rasya tersenyum membuat lekukan di pipinya terlihat makin dalam.”Entahlah Ras, saya juga bingung. Mungkin bahasa mereka saja yang terlalu lebai.” Aini tertawa datar.

***

Dihibur gemuruhnya suara hujan deras diluar, Aini kembali menggeluti sesuatu yang disebutnya karya. Namun yang terjadi, adalah kebuntuan yang sama dengan yang kemarin malam. Haruskah mundur?? Benaknya bertanya-tanya. Tapi sudah terlanjur. Ini series kelima belas. Benaknya pula yang menjawab. Ini baru tepat kalau di andaikan ‘tikus yang lari dari kejaran kucing’. Ujung-ujungnya tetap tertangkap. Ia kembali mengetik. Sudah hampir satu halaman, tapi cita rasanya tetap sama. Hambar. Ia kembali tersungkur.

Rasya baru saja kembali dari pantry membawa dua cangkir kopi di tangan kiri dan kanan. Tapi sepertinya kopi yang di tangan kanan takkan berguna karena komputer di sebelah mejanya mati, dan tak ada kertas bertebaran di sekitarnya.

“Kemana dia?”

Ini adalah pertaruhan. Ia berpikir sengit. Bertahan jadi editor dan cerita bersambungnya jadi mati suri, atau menjalani sesuatu yang baru yang benar-benar ia inginkan. Penulis. Menelurkan sebuah karya. Pikirannya menggaris bawahi sebuah kalimat, ‘deadline dua hari lagi’, yang berarti besok. Sementara tiap kertas yang meluncur dari printer, ia baca sejenak, berpikir, lalu ia lempar ke segala arah. Rasanya kamar yang ia diami saat ini seperti pesawat boeing 737 yang meledak berkeping-keping.

Dalam situasi seperti ini, Hemonculusnya terasa menggeliat terbangun. Tubuhnya dialiri listrik dan bohlam itu menyala lagi. Sebelum lupa akhirnya ia menulis semuanya. Detail. Tak terlewat satu titik pun.

***

“Saya dengar series ke lima belas sudah sampai ke editor?”

“Yup.”

“Bukannya kamu udah bener-bener menyerah sama cerita bersambung itu?

“Siapa bilang? Hemonculus ku sudah bangun. Aku bukan lagi pujangga yang mati suri.”

“Ceritanya?”

“Ceritanya tokoh penulis ku itu lagi mandek ide. Frustasi gak bisa berkarya lagi. Tapi dia dapat pencerahan dari teman satu team-nya. Akhirnya dia bisa berkarya lagi.”

“Epilognya kurang seru. Harusnya gak cuma bisa berkarya lagi. Mungkin ada traktiran di Coffee Bean untuk sang pencerah.” Rasya memamerkan lesung pipinya, sambil mengulurkan secangkir kopi.

“Boleh. Kalau series yang ke lima belas itu sampai di tangan pembaca.” Aini menerima uluran cangkir itu.

Unpredictable Getting Closer

Jarinya yang lincah menekan tuts keyboard terangkat sejenak. Ia nampak berpikir dulu apa yang harus ditulis selanjutnya. “Ya udah, lo sabar aja dulu. Mungkin lo bisa muncul tapi secara gak langsung. Pakai pertanda. Biarlah cewek itu yang menyadari keberadaan lo dengan sendirinya.” Tulisnya. Ia lalu mengklik kotak biru bertuliskan reply.

“Hanaz!”

Daun pintu warna cokelat tua itu terbuka pelan. Hanaz buru-buru mengklik icon minimize, dan yang muncul kini adalah makalah ekonomi yang tak rampung-rampung dikerjakan menggantikan situs GettingCloser.com yang sejak tadi digelutinya.

“Eh, Mami.” Sapanya dengan senyum yang dibuat-buat.

“Belum tidur? Besok kesiangan lho!”

“Belum. Tugasnya belum selesai. Susah banget Mam.” Gerutunya. Seolah ia memang tengah sibuk berkutat dengan tugas sekolahnya.

“Oh, saking susahnya Mami denger kamu sampe ketawa tergelak, bahkan nyaris cekikikan.” Smash Maminya ngena, sambil mengikat piyama tidurnya.

Hanaz garuk-garuk kepala “Oh, itu. Aku kepikiran si Ivan Mam. Masak nih Mam, tadi siang dia kan ketiduran di kelas. Udah gitu ketahuan sama guru sosiologi. Pas ditegor dia malah ngeles ‘Saya pusing Pak mikirin negara gak maju-maju, sampe ketiduran’.” Hanaz bercerita menirukan logat Ivan teman sekelasnya. Apa yang Ia ceritakan memang seratus persen benar. Yang tidak benar itu adalah, tujuan dia menceritakan alasan itu buat membohongi Mami supaya tidak diomeli.

Yah, Mami kok gak ketawa. Gak lucu ya? Alamat nih… Benaknya.

“Hmm.. Sudah tidur sana!” Siluet Mami menghilang dibalik pintu yang tertutup.

Hanaz menepuk dadanya, sambil menghembuskan nafas pelan. Ia lalu berbisik penuh kemenangan “Uh, Mami kece deh.”

                                                                                                                     ***

Hanaz, Ina, Amel, Restu dan Liam. Teman satu geng ‘Unpredictable’ sengaja diberi nama begitu karena mereka sendiri gak tahu kenapa bisa jadi dekat. Kenapa bisa suka curhat-curhatan kalau lagi galau. Atau conference call sampe malam kalau lagi suntuk dan gak ada kerjaan. Atau mungkin kepribadian mereka yang serba unpredictable.

Hanaz: masih ada bule-bulenya tapi sering dikecam bule gagal sama empat teman lainnya. Gara-gara dia gak menguasai bahasa Ayahnya, Bahasa Belanda. Gitu-gitu juga Hanaz anggota OSIS yang berani tampil.

Restu: Anggota ekskul Taekwondo yang punya perasaan paling halus dibalik tampilannya yang sangar.

Ina: Juru kunci mading yang sering kena tegor karena lebih cocok jadi pen-sortir karya siswa dari pada juru kunci. Alasannya ‘gak layak muat’. Lalu HVS itu dicabut dan dibuang sembarangan.

 Amel: Hobi sama IT, bikin program atau aplikasi. Cenderung bikin aplikasi nyeleneh yang bisa bikin temennya ngakak.

Sementara Liam: Keren, masih bule juga, tapi dia gak termasuk gagal. Lebih milih gaul sama empat cewek unpredictable itu, ketimbang jadi sosok populer dan little bit mysterious. Hanaz dan Liam tinggal di komplek yang sama, dan tanpa sengaja rumah mereka berhadapan.

Kelimanya juga punya ide sama: “Biar makin beken gimana kalo nampil di malam pensi, biar makin eksis. Disanjung adik kelas, disayang kakak kelas.”

Segala yang ada pada diri mereka memang unpredictable.

Kini para unpredictable itu tampak khusyuk dengan buku PR matematika masing-masing. Harus beres sebelum jam istirahat selesai, atau Pak Nurahman menjemur mereka sampai kulitnya berubah jadi sun tan eksotis jam sebelas nanti.

Tiba-tiba “Keren, ya! Oh, buatan Mahasiswa Teknik UI? Wah, lama-lama bisa nyaingin Twitter nih, GettingCloser.com” Cerocos Wina teman sekelasnya dari balik tabloid ‘Keren Beken’.

Lima wajah yang tadinya datar, seimbang, equilibrium, kini jadi mendongak penuh minat. Mata mereka memperhatikan Wina. Ah, bukan. Mereka memperhatikan apa yang diucapkan Wina barusan.

“Gue juga ikutan GettingCloser.” Timpal restu lebih kepada diri sendiri, menanggapi ucapan Wina.

“Udah hampir setahun gue jadi member. Kita kan saling follow cong.” Ina nyengir.

“Hahaha.. Bahkan tiap malam kita bikin rusuh. Cuma Hanaz dan Liam doang yang kudet alias kurang up date.” Amel membumbui.

“Gue sih gak minat. Kayak orang kesepian. Kayak gak punya temen aja ikutan gituan. ” Jawab Hanaz pura-pura. Jaga image. Bisa malu kalau sohibnya tahu ia menjadikan GettingCloser  ladang buat garap curhatannya tiap malam.

“Bukan urusan punya atau gak punya teman, atau seberapa kesepiannya diri lo. Ini kan seru-seruan.” Restu mengajak Amel dan Ina, ber-tos ria.

Sementara anggota paling ganteng Liam, hanya berseloroh “Rame mulu nih cewek-cewek. Gak konsen.”

“Sorry, Prince.” Jawab keempatnya kompak.

Ngomong-ngomong soal GettingCloser, Hanaz jadi ingat sama Mars. Teman dumay yang di follownya. Cerita banyak soal jadi secret admire dan gak bisa secara gentle ngungkapin perasaan karena takut merusak persahabatan. Hal yang hampir sama dengan yang dia alami di dunia nyata. Setidaknya tiap dua hari sekali ia dapat kiriman surat di lokernya. Kalo tak ada surat, biasanya boneka kecil, atau gantungan kunci yang unik menyambutnya dengan manis. Tentunya dari seseorang yang tak jelas identitasnya. Padahal Ia selalu mengunci lokernya tiap pulang sekolah. Gak mungkin kan Pak Wagimin sang juru kunci duplikat yang menaruhnya. Hanaz jadi bergidik ngeri.

Taruh tas, buka sepatu, lalu membanting badannya ke tempat tidur. Agenda Hanaz siang ini. Sambil berguling-guling malas, Ia membaca sesuatu yang diambilnya dari laci. Surat dari si pengagum rahasia. Hanaz membacanya teliti, satu per satu. Berharap mendapatkan petunjuk. Isinya ada puisi, ajakan makan siang di kantin. Yang lebih aneh, suatu hari si pengirim surat itu bilang bahwa dia akan pulang bareng Hanaz. Padahal sampai hari ini pun dia gak pernah pulang sekolah selain nebeng mobil Liam bersama tiga sohib lainnya. Kadang si penggemar rahasia itu bertutur seolah mereka sudah dekat sejak lama.

Ia jadi ingat Mars lagi. Apa mungkin dia?? Bisa saja dia adalah teman satu sekolahnya yang  memakai identitas sebagai Mars. Hanaz berkaca pada pengalaman. Ikutan GettingCloser secara diam-diam. Sebagai Kitty. Tapi bisa kah??? Di dunia nyata, cuma jadi secret admire. Sementara di Getting Closer, jadi teman curhat. Gak mungkin. Ini cuma kejadian di film. Hanaz mengacak rambutnya frustasi. Lalu memilih pergi mandi.

                                                                                                                              ***

Sambil membaca novel, Liam membiarkan Laptopnya menyala dengan keadaan online di GettingCloser. Tak lama berselang terdengar bunyi ‘dung’ tanda ada pesan masuk di Treasure Box nya, lalu sederet tulisan muncul.

Kitty: Hei Mars, lo belum tidur kan??

Mars: Belum. Gue lagi baca novel. The Lord of  The Ring.

Kitty: Rajin banget lo.

Mars: Ngilangin suntuk.

Kitty: Gimana usaha lo? Sukses?

Mars: Belum membuahkan hasil.

Kitty: Mars nanti gue lanjut. Gue mau cabut nih. Penting.

Belum sempat Liam membalas, ada video call di Laptopnya. Begitu di klik answer, empat wajah galau langsung mencuat di layar laptopnya.

“Hai prince.” Seru keempatnya kompak.

“Hai fans!” Jawabnya ramah.

Wajah-wajah cantik itu langsung menatap jengah. Ada yang melotot, manyun, alisnya naik sebelah atau mangap. Mempersoalkan sapaan Liam barusan “fans”.  

Sampai Restu , Amel, Ina, Liam dan Hanaz kelimanya terlibat percakan seru. Saling sanggah, saling ejek, saling tunjuk. Sampai akhirnya satu per satu tumbang. Tak sadarkan diri sampai pagi. 

                                                                                                                       ***

Hanaz menarik udara lalu meniupnya pelan “Ada lagi.”

Liam yang berdiri tepat disebelahnya menanggapi enteng. “Dia bukan gak punya keberanian. Ada sesuatu yang menurut si secret admire itu lebih penting dari pada perasaannya.”

Hanaz berdecak gusar. Kalau begini tiap hari, bisa mati penasaran gue.

“Eh lo kok…” Hanaz memandangi punggung Liam yang makin menjauh lalu menghilang dibalik pintu kelas “bisa tahu…???” Ia buru-buru membereskan loker dan mengikutinya.

Hanaz duduk dibalik mejanya menyangga wajah dengan kepalan tangan kanan. Menatap Liam sejurus. Sosok yang diamatinya tengah serius membaca. Hanaz tersentak saat membaca tulisan di covernya. Novel berjilid merah bertuliskan The Lord of The Rings. J. R. R. Tolkien. Ia ingat pada message Mars semalam Gue lagi baca novel. The Lord of  The Ring. Ia menggeleng sambil mengurut keningnya pelan “Mungkin cuma kebetulan.”

Pulang sekolah, lima unpredictable itu kumpul-kumpul di rumah Ina, membahas projek mereka untuk tampil di malam pensi yang tinggal menghitung hari. Sekaligus latihan karena mereka mau menyanyi sambil akustikan. Awalnya mereka memilih lagu Westlife: Swear It Again yang sangat cocok dengan background persahabatan mereka. Namun Liam berubah pikiran. Ada sebuah lagu baru yang terdengar lebih klik ditelinganya. One Direction: They Don’t Know About Us.

Liam membagi kertas berisi lirik itu pada kawannya satu persatu. Mereka mulai membacanya. Kecuali Hanaz. Keputusan Liam untuk mengganti lagu membuatnya jadi malas latihan. Sejak tadi, dia hanya mengutak-atik BB-nya.

“Seriusan nih?? Kita harus mulai lagi dari awal dong. Sementara gue susah payah hafalin tuh lagu yang kemarin.” Elak Restu.

“Ini lebih cocok.” Liam meraih gitarnya. Ia memperkenalkan lagu itu pada teman-temannya.

Liam berusaha menyanyikannya dengan artikulasi super jelas. Supaya teman-temannya mudah menghafal

 

“People say we shouldn’t be together

We’re too young to know about forever

But I say they don’t know what they talk talk talkin’ about

Cause this love is only getting stronger…………….”

Ina nampak menghayati liriknya dan manggut-manggut setuju. Begitu pun Amel. Restu sedang berusaha mencernanya. 

 

“They don’t know about the things we doThey don’t know about the I love you’sBut I bet you if they only knewThey will just be jealous of usThey don’t know about the up all nights

They don’t know i’ve waited all my life

Just to fall in love it feels right

Baby they don’t know

They don’t know about us

Kembali Hanaz tersentak oleh sosok Liam. Selesai Liam menyanyikan part itu Hanaz mengamati kertas yang ada di genggamannya. Ia membaca kata demi kata lirik lagu itu. Terutama bagian chorus, yang mirip-mirip dengan isi surat dari si secret admire pagi tadi. Masihkah ini kebetulan?

                                                                                                                            ****

Hanaz membuka GettingCloser-nya lalu menuliskan “Rumit!” Sebagai judul postingan-nya.

Seseorang mengirmkan feed back “Apa yang rumit?”. Ternyata dari Mars.

Ia segera membalasnya “Bukan apa-apa.”

Mars kembali mengirimi feed back “Gue harap lo baik-baik aja. Gue udah mulai jalani ide lo. Kayaknya bakal sukses.”

“Terus tanggapan cewek itu gimana????”

“Kayaknya dia belum ngeh. Tapi sesuai ide lo, gue bikin pertanda biar dia ngeh sama keberadaan gue.”

“Terus???”

Mars lalu menceritakan semuanya. Tentang pertanda –pertanda itu, tentang gadis yang ia kagumi itu. Hanaz membekap mulutnya membaca satu persatu kata yang dituturkan Mars. Semuanya mengarah pada dirinya. Benarkah ini. Atau kah ia harus  tenggelam lagi dalam pikiran “sekedar kebetulan”.

Hanaz punya ide, jika Mars dan Liam adalah orang yang sama, ia yakin ide ini akan berhasil seratus persen.

“Lo bisa tengok ke luar jendela?? Di langit banyak bintang kerlap-kerlip.”

Hanaz lalu berlari ke muka jendela menyingkap sedikit tirai. Mengintip si penghuni kamar yang ada di seberang kamarnya. Dari situ kelihatan penghuni kamar yang tak lain adalah Liam sahabatnya keluar menuju balkon lalu mematung berdiri sambil mendongak ke langit. Mulutnya seperti berkata-kata.

Hanaz menutup kembali tirainya. Ia nampak menitikkan air mata. Jadi itu, tersangka yang bisa membuatnya terkena serangan jantung karena selalu membuatnya berdebar tak karuan lewat suratnya. Tersangka yang bisa saja membuatnya mati penasaran gara-gara tak pernah meninggalkan identitas di tiap surat-suratnya. Hanaz kembali menghadap laptopnya. Ia putuskan untuk menutup akun GettingCloser-nya.

                                                                                                                        ****

“Tumben lo agak dieman.” Ina menyenggol temannya pelan.

“Masa? Kayaknya gue biasa aja.” Hanaz menjawab sekenanya.

“Hei gals.” Suara itu. Suara yang Ia hafal sekali.

Benar, Liam sudah berdiri di belakangnya. Hanaz jadi kikuk, canggung dan malu. Semuanya tumpah ruah jadi satu.

“Gue mau ke toilet.” Ujarnya terbata.

Dia bahkan gak merasa gugup sedikit pun saat deket gue. Smentara gue, setelah tahu dia punya rasa malah jadi canggung. Gak bisa lama-lama deket dia. Apa mungkin gue salah orang???                                                 

Berawal dari situ Hanaz mengurangi intensitas pertemuannya dengan geng unpredictable. Ia sering menolak ajakan makan siang bareng di kantin. Atau mangkir dari latihan nyanyi. Ia mau pergi dengan yang lainnya kalau Liam tidak ikut bersama mereka. Dan ini berlangsung sudah berhari-hari. Liam pun merasa, ada sesuatu yang berbeda dengan Hanaz. Tak seceria dan tak serame biasanya. Lebih suka menghindar, jangankan bertemu bertatap mata pun tidak.

“Naz, jangan langsung pulang. Kita ke MOI yuk cari makan!” Ajak Amel.

“Liam ikut?”

“So pasti lah. Kenapa?”

“Gak jadi. Gue balik duluan ya. Naik busway aja.” Hanaz buru-buru pergi.

Ketiga temannya menggeleng tak mengerti.

                                                                                                                    ****

Sudah berhari-hari dan Hanaz tak tahan lagi. Ia menyambar ponselnya lalu mengirimkan pesan singkat untuk Liam. “Gue udah tahu semuanya.”

Tak lama ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Liam.

“Hallo”

“Hallo, naz lo gak salah kirim kan?”

“Salah kirim?”

“SMS tadi maksudnya apa?”

“Gue udah tahu semuanya. Lo secret admire itu kan? Lo yang kirim surat ke loker gue. Yang selalu kirim hadiah.”

“Lo udah tahu?”

“Kok lo tega bikin gue kelihatan kayak orang bodoh. Bingung. Apa lo pengen gue sedikit demi sedikit mati penasaran??”

“ Naz…..”

Belum sempat Liam bicara Hanaz menyudahi percakan ponsel itu. Ia sendiri bingung. Kenapa bisa seperti ini? Semuanya terasa seperti permainan. Bahkan ia ingat, dirinya sendiri yang minta supaya Mars yang ternyata Liam mulai menujukkan diri. Tak usah menyatakan terang-terangan. Cukup muncul dengan pertanda. Yang membuat gadis pujaannya menyadari keberadaannya dan Liam benar-benar melakukan permintaannya.

                                                                                                                         ****

Pensi diselenggarakan nanti malam. Aktifitas belajar diliburkan dan para siswa membantu untuk dekorasi. Dalam situasi ini unpredictable curi-curi waktu untuk gladi resik. Mereka bernyanyi dengan baik. Begitu pula Liam dan Ina keduanya mengiringi dengan permainan gitar yang baik. Mereka siap tampil. Namun tetap saja rasanya tak seperti kemarin-kemarin. Kekompakan mereka datar. Tak ada unsur emosionalnya.

“Gue gak tahu apa yang terjadi sama kalian berdua sampe main kucing-kucingan segala. Akhir-akhir ini rada beda. Dan kami bertiga pengen kalian seleasiaiin sebelum kita tampil. Kalau nggak, penampilan kita hancur.” Tegas Restu ke arah Liam dan Hanaz yang berakting seolah tak terjadi apa-apa.

“Rasa-rasanya gue gak main kucing-kucingan. Gak punya masalah sama dia.” Hanaz mengarahkan telunjuknya ke arah Liam.

Liam langsung berdiri dan menaruh gitarnya. “Lo bener tu, ada hal yang mesti gua dan cewek ini selesaiin.” Hanaz memalingkan wajah saat mendengarnya.

“Terserah. Kita sebagai sahabat cuma khawatir aja. Akhir-akhir ini, lo naz sering banget mangkir dari unpredictable. Lo juga Liam, lo ikut-ikutan. Ditambah kalian berdua gak mau tegoran.” Timpal Ina.

“Gue harap masalah sekecil apapun, gak akan ngeruntuhin kita berlima. We have the promise, about stay forever. Mungkin menurut orang ini sederhana. Tinggal ngumpul  berlima, terus seru-seruan bareng. Tapi bagi gue berbeda. Kita gak sesederhana itu.” Amel nampak bergerak menyapu seseuatu di pelupuk matanya.

“So, bicarakan dengan kepala dingin. Kami pergi makan duluan ya.” Restu berdalih. Sengaja ia akhiri sebelum ada air mata yang jatuh lebih banyak.

Ketiganya pergi. Tinggal Liam dan Hanaz. Keduanya sama-sama diam. Sibuk dengan isi pikiran masing-masing anatara percaya dan tidak. Suasananya berubah seratus delapan puluh derajat dari beberapa hari lalu. Biasanya saat mereka berkumpul selalu ada celetukan riang atau seloroh yang mengundang tawa. Hari ini tak sama. Keduanya bertingkah seperti idiot yang pura-pura tak saling kenal. Saling menganggap satu sama lain sebagai orang asing.

“Gue minta maaf.”

Hanaz diam.

“Gue minta maaf kalau apa yang gue lakuin selama ini bikin lo gak berkenan.”

Hanaz masih diam.

“Gue minta maaf. Gue cuma takut kalo perasaan yang gue miliki buat lo bakal menghancurkan segalanya.”

Hanaz tetap diam.

Liam merasa ngilu dalam dadanya. Apakah Hanaz membencinya atau apa namanya. Sampai tak mau bicara dengannya. Harga dirinya sebagai laki-laki runtuh seketika. Tetesan air mata itu mulai mengalir di kedua pipinya.

“Kenapa lo takut?” Hanaz tiba-tiba bicara.

“Gue takut naz. Dalam hubungan cinta itu gak ada kata selamanya. Sedangkan sahabat?? Lo pernah denger gak ada orang yang punya mantan sahabat. Gue gak mau mengobrak-abrik persahabatan kita.”

“Kalo itu maksud lo, harusnya lo gak jadiin itu sebagai ketakutan. Kenapa gak mencoba dan berusaha membuat perasaan lo itu bertahan buat selamanya? Gak akan ada yang hancur kan?”

Hanaz bangkit. Ia tak kuat membiarkan air matanya tumpah ruah di depan Liam. Ia pergi meninggalkannya sendirian.

Liam tersentak mendengar perkataan Hanaz tadi. Otaknya rasanya lambat mencerna. Ia seperti menekan tombol rewind di tape recorder. Berusaha membuat perusahaan lo itu bertahan untuk selamanya. Apa mungkin? Liam langsung berlari mengejar Hanaz, tapi tidak dia temukan. Entah pergi kemana anak itu.

“Halo, tu gue minta bantua lo…”

                                                                                                                      ****

Malam pensi itu dimulai dengan pembukaan meriah. Semuanya punya giliran tampil. Meski lebih di dominasi oleh anak-anak kelas tiga. Ada yang bawa penampilan teater, bernyanyi, modern dance, dan film pendek. Liam cs masih duduk di depan panggung. Menonton. Giliran tampil masih jauh. Sesekali mereka tertawa saat pemutaran film pendek tentang sekolah mereka, yang dibuat oleh anak kelas satu.

Seorang panitia mendekat. Lalu menepuk bahu Liam pelan. “Mau nampil gak bang? Abis ini giliran lo nih.” Suaranya berbisik.

“Oh, oke.” Liam pergi meninggalkan empat temannya yang khusyuk dengan tontonannya saat ini.

Selain Restu, ketiga cewek itu terkaget-kaget melihat Liam tampil di panggung sendirian.

“Kok kita gak diajakin sih?” Tanya Amel.

“Iya. Ngaco tuh si bule.” Tambah Ina.

Hanaz diam. Malas menanggapi. Lebih baik begitu. Kalau dipaksakan tampil berlima pun hasilnya akan kurang bagus. Ia sadar diri, tak punya mood untuk jadi tontonan malam ini.

Liam duduk  mendekatkan mic ke wajahnya, dan mulai memetik gitar. Ia bernyanyi dengan suara beratnya.

 

“Your hand fits in mine

Like it’s made just for me

But bear this in mind

It was meant to be

And I’m joining up the dots

With the freckles on your cheeks

And it all makes sense to me

 

I know you’ve never loved

The crinkles by your eyes when you smile

You’ve never loved

Your stomach or your thighs

The dimples in your back at the bottom of your spine

But I’ll love them endlessly

 

I won’t let these little things slip out of my mouth

But if I do,

It’s you,

Oh it’s you,

They add up to

I’m in love with you,

And all these little things

 

You can’t go to bed,

Without a cup of tea,

And maybe that’s the reason why you talk in your sleep

And all those conversations

Are the secrets that I keep

Though it makes no sense to me

 

I know you’ve never loved the sound of your voice on tape

You never want to know how much you weigh

You still have to squeeze into your jeans

But you’re perfect to me

 

I won’t let these little things slip out of my mouth

But if it’s true,

It’s you,

It’s you,

They add up to

I’m in love with you,

And all these little things

 

You’ll never love yourself

Half as much as I love you

You’ll never treat yourself right, darlin’

But I want you to,

If I let you know, I’m here for you,

Maybe you’ll love yourself,

Like I love you

Oh,

 

And I’ve just let these little things slip out of my mouth,

Cause it’s you,

Oh it’s you,

It’s you,

They add up to

And I’m in love with you,

And all these little things,

 

I won’t let these little things slip out of my mouth,

But if it’s true,

It’s you,

It’s you,

They add up to,

And I’m in love with you,

And all your little things. Hanaz” Dibagian akhir itu Liam bernyanyi dengan suara yang lirih.

 

Sang empunya nama cuma menunduk sibuk menutupi gurat merah merona di wajahnya. Antara terkejut, dan tak percaya. Ini hadiah paling indah dari sang pengagum rahasia. Sementara dua teman lainnya yang tidak tahu apa-apa seperti kesulitan bicara. Mereka kaget setengah mati. Mengintrogasi Hanaz melalui tatapan minta penjelasan. Sementara Restu cekikikan sendiri.

Liam sudah menunaikan kewajibannya untuk mengantarkan teman-temannya sampai rumah dengan selamat.Masih ada Hanaz di sampingnya. Kini ia tersenyum-senyum sendiri di balik stir. Mengingat berondongan pertanyaan dari teman-temannya yang terkena sindrome kepo. Tapi itu moment yang paling ia rindukan, moment yang sempat tenggelam akhir-akhir ini.

 

“Mau langsung pulang?” Liam memulai pembicaraan.

“Yo’i. Ngantuk bro.” Seloroh Hanaz seperti biasa.

“Oh. Ngantuk atau malu berdua doang sama gue?”

“Hah? serah deh!”

“Oke, oke. Ngomong-ngomong, kalau gue perhatian sama Amel, Ina atau Restu. Lo gak akan cemburu kan?”

“Cemburu? Buat apa? Kewajiban lo tuh! Lo cowok satu-satunya di unpredictable.”

Liam menghentikan laju mobilnya.

“Sebelumnya gue juga mau kasih surprise buat lo. Gue Kitty dari GettingCloser. Senangnya bisa kopi darat sama lo Mars.”

“Lo, Kitty? Kitty temen chat gue?”

“Betul.” Hanaz tersenyum penuh kemenangan. Satu sama.

“Gimana bisa. Gak mungkin. Lo kan gak punya akun GettingCloser.”

“Lo sendiri! Emangnya anak-anak tahu, lo punya akun itu juga. Dasar!” Hanaz meninju bahu Liam pelan.

“Gue jadi speechless.”

“Gue apa lagi.”

“Jadi sekarang kita jadian.”

“Lho gak nyambung”

“Ya gue sambungin. Pernyataan cinta udah, tinggal jawabannya.”

“Mmmmmm” Hanaz nampak berpikir sejenak. Lalu tersenyum penuh arti. Begitu pula Liam. Lalu mereka saling menggenggam tangan dengan erat.

Adalah sebuah kerajaan di negeri antah-berantah, memerintah lah seorang raja yag arif. Ia ditaati rakyatnya karena dermawan. Ia diberkahi Tuhan sebuah negeri yang di penuhi ladang-ladang subur, dan hutan yang di penuhi aneka macam pohon yang berbuah lebat karena kebajikannya. Tambah bahagia hatinya, ketika mendapati bahwa permasuri sedang mengandung anak pertama mereka.
Raja begitu sibuk. Mengurusi negeri yang Ia cintai hingga tak terasa waktu permaisuri melahirkan makin dekat. Dari hari kehari, kini kesibukan Raja yang rendah hati itu bertambah. Ia menyusun rencana, supaya kebahagiaan itu tak cuma jadi miliknya. Jadilah Ia memutuskan untuk menggelar sebuah pesta rakyat setelah kelahiran buah hatinya.

Hari itu tiba. Dentuman suara dari alat musik, melingkupi segala celah kastel yang amat luas itu. Segala makanan terhidang, memenuhi meja-meja besar di alun-alun kastel. Macam-macam buah, serta minuman anggur ada disana. Raja dan permaisuri sang punya hajat bergabung dalam suka ria itu. Bersama seorang puteri cantik dalam gendongannya yang menggeliat pelan.

“Semoga kamu menjadi Puteri yang bijaksana dan rendah hati.” Peri Azzura menggoyangkan tongkatnya ke wajah bayi itu.

“Semoga kamu dikarunia wajah yang mempesona dan kecerdasan yang bermanfaat.” Lavender meniupkan serbuk cahayanya.

Semua undangan mendapat giliran untuk melihat wajah calon penerus raja tentu sambil mendoakannya. Semua larut dalam bahagia. Hingga akhirnya muncul seorang tamu tak diundang, Laverna. Peri peracik ramuan obat yang angkuh.

“Semuanya hadir. Nampaknya aku luput dari daftar undanganmu, Raja ku.”

“Maafkan aku Laverna. Tempat tinggalmu sangat jauh dari sini. Aku tak punya utusan yang bisa mengirimkan undanganku untukmu.”

“Begitukah? Atau kah memang Raja yang bijak telah melupakan aku? Satu-satunya peramu obat di negeri ini.”

“Tentu tidak.”

“Terima kasih yang Mulia. Tapi aku terlanjur sakit hati. Apakah aku boleh turut mendoakan Bayi kecilmu.”

“Laverna.” Wajah sang Raja memancarkan kekhawatiran.

“Semoga kamu tumbuh menjadi Putri yang cantik. Sayangnya kamu akan tertidur panjang jikalau tertusuk jarum, Putri.” Seketika tawa Laverna menguar . Ia mengayunkan tongkatnya ke wajah Putri kecil itu.

Semua yang hadir terkejut. Termasuk para peri itu. Seorang peri dengan sayap berkilauan seperti sinar matahari buru-buru mendekati bayi itu.

“Namun seseorang dengan hati yang tulus, akan datang selamatkanmu.” Sayangnya mantra dari Sunburst barusan tak dapat mengobati luka hati raja dan permaisuri.

Esoknya raja mengumumkan dilarang ada jarum di kastel dan putri tidak boleh dibawa keluar dari kastel.

Bertahun-tahun sang Putri yang bernama Elina itu hidup dalam kungkungan dinginnya tembok istana. Tembok yang menjulang tinggi, yang telah mengasingkannya dari hingar bingar dunia diluar sana. Makin hari wajahnya makin cantik, pikirannya yang cerdas makin brilian dan rasa ingin tahunya makin menguat. Tiap pagi, saat ayah dan ibunya sibuk dengan tugas negara  Putri Elina diam-diam menyamar jadi pelayan dan ikut bersama rombongan pergi ke pusat kota untuk berbelanja kebutuhan istana. Selagi yang lain sibuk dengan tugas masing-masing, Elina berkeliling, mengenyangkan dirinya yang selalu lapar akan pengetahuan. 

Keadaan itu sampai pada telinga Laverna. Ia mendapatkan berita ini dari Orca, seekor burung merpati piaraannya yang memata-matai Elina sejak lama. Mendengar ini Laverna seperti mendapat angin segar. Ternyata dendam itu masih ada di hatinya.

Pada suatu pagi di musim gugur, Elina yang sedang berjalan-jalan dekat pasar menjumpai sebuah kios jasa  penjahitan pakaian. Dengan rasa ingin tahu yang menggebu Elina mendatangi tempat itu. Disana Ia menjumpai seorang ibu, sedang fokus pada kegiatannya. Kegiatan yang begitu asing di mata Elina.

“Permisi, Anda sedang apa?” Tanyanya penasaran.

 

 

Gotta Be You

Zayn Malik 😀

I was working on the proof of one of my poems all the morning, and took out a comma. In the afternoon I put it back again.

Oscar Wilde

One Direction – Little Things 🙂

This is for someone far away from home 🙂

Lihatlah aku Kesatria.

Aku bukan hantu yang mengambang tak punya nyawa.

Aku nyata menjajaki bumi.

Kaki ku bahkan pernah sampai ke tempatmu.

Aku ada dalam benakmu, terus berlarian.

Bahkan terus di samping telingamu, membisikkan.

Itulah sebabnya hatimu aku kuasai.

Wajahmu boleh menghadap kemanapun.

Di dalam hatimu, yang ada hanyalah aku.